Touring ke tempat belum terjamah bersama komunitas motor 2 tak Utah Lalay Bandung

Mang Ukir, pendiri komunitas Utah Lalay, Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)
Mang Ukir, pendiri komunitas Utah Lalay, Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)

Komunitas ini mempopulerkan sepeda motor 2 tak buatan tahun 70-an merek Suzuki FR series dan Yamaha V series. Namanya komunitas Utah Lalay, lahir dari salah seorang keluarga besar komunitas motor gede Bikers Brotherhood 1% MC.

Para anggota Utah Lalay biasa melakukan tur jarak jauh dengan sepeda motor tua ini. Dari namanya, komunitas Utah Lalay bisa ditebak asal Bandung. Kalau diartikan secara harfiah, nama komunitas berasal dari bahasa Sunda, “utah” berarti muntah, dan “lalay” berarti kelelawar.

Utah Lalay merupakan sebutan untuk motor jadul Suzuki FR series dan Yamaha V series buatan Jepang itu. Ini karena bentuk sepeda motornya seperti utah lalay, kurus, kecil, dan knalpotnya berasap akibat bahan bakar 2 tak bensin dan oli samping.

Sebenarnya bentuk dan model Suzuki FR series dan Yamaha V series tidak jauh berbeda dengan bebek 70 yang kini banyak berseliweran di Bandung dipakai anak-anak muda. Bedanya, Suzuki FR series dan Yamaha V series memakai mesin 2 tak.

Mang Ukir, pendiri komunitas Utah Lalay, Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)
Sepeda motor ‘Utah Lalay’, Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

Dibentuk pasangan suami isti penggemar touring

Komunitas Utah Lalay dibentuk pasangan suami istri yang juga keluarga besar Bikers Brotherhood 1% MC, Asep Kurniawan alias mang Ukir dan Ria Anggraeni pada 2018.

Sudah lama pasangan tersebut aktif di klub moge . Mereka merasa ingin ada sesuatu yang baru dan berbeda dalam berkomunitas khususnya dalam memakai sepeda motor.

Karena seperti diketahui, moge merupakan media yang mahal, perawatannya mahal, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memilikinya. Maka dipilihlah Suzuki FR dan Yamaha V series sebagai media komunitas mereka.

Sepeda motor yang disebut nenek moyangnya motor bebek itu diyakini akan lebih leluasa dengan jangkauan anggota yang lebih luas.

Ia sengaja tidak memilih bekjul (bebek 70) yang lebih dulu popular. “Kalau bekjul sudah banyak yang pakai. Kita ingin beda, maka pilih 2 tak,” kata mang Ukir, saat berbincang di Café Cudeto, Cikutra, Bandung, Sabtu 27 November 2020 malam.

“Nama Utah Lalay dipilih karena motornya “geuleuh”. Utah Lalay juga menjadi nama komunitas kami,” kata mang Ukir.

Awalnya, hanya mang Ukir dan istrinya saja yang mengendari motor Utah Lalay. Waktu itu di Jawa Barat motor jenis Utah Lalay terbilang langka. Mang Ukir mendapatkan motor Utah Lalay dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka banyak melakukan touring berdua dengan mengendarai si Utah Lalay. Lama-kelamaan banyak keluarga Bikers Brotherhood 1% MC yang tertarik memiliki Utah Lalay. Sampai El Presidente Bikers Brotherhood 1% MC Pegi Diar juga ikut menjadi bagian dari keluarga besar Utah Lalay.

Banyaknya peminat yang ingin punya sepeda motor Utah Lalay membuat mang Ukir terus mendatangkan motor-motor antik tersebut. Anggota komunitas ini semakin beragam mulai dari selebritis, pengusaha, seniman, pejabat sampai anak-anak mereka. “Doel Sumbang juga keluarga Utah Lalay,” kata Mang Ukir.

Komunitas ini berhasil mendobrak mitos bahwa motor 2 tak tidak cocok untuk kontur jalan di Jawa Barat yang berbukit dan menurun. Malah Utah Lalay punya kalender touring yang cukup padat di dalam dan luar Jawa Barat. Saat ini Utah Lalay sedang turing ke Bali.

“Mitos bahwa 2 tak ga kuat nanjak terbantahkan karena kita sudah buktikan dengan touring jarak jauh tanpa diupgrade mesinnya,” katanya.

Jika Bikers Brotherhood 1% MC ada istilah chapter sebagai cabang komunitas, di Utah Lalay ada istilah kandang. “Kita punya kandang di banyak daerah, di Subang, Soreang, Bigor, Betawi sampai Borneo,” katanya.

Baca juga:

Kebanyakan keluarga Utah Lalay adalah anggota Bikers Brotherhood 1% MC, tapi tidak semua keluarga besar Bikers Brotherhood 1% MC otomatis masuk Utah Lalay.

Dalam melakukan turing, Utah Lalay mentarget daerah-daerah yang jarang dijamah oleh komunitas-komunitas motor lain, yakni daerah-daerah yang berpotensi menjadi tempat wisata.

Misalnya, komunitas ini turut mempopulerkan Jamkris di Subang. Selama turing di tempat tersebut, komunitas ini menyampaikan laporan atau dokumentasi di akun-akun Instagram. Turing ini selalu disertai dengan bakti sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.

“Banyak tempat yang oleh anak motor tidak terjamah sama kita terjamah,” kata mang Ukir. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here