Ternyata ini arti Kota Cimahi, dari kata “ci” dan “mahi”

Festival Cai Cimahi
Persiapan Festival Cai Cimahi. (Dok Bandoengmooi)

Setiap nama tempat suatu daerah pasti punya arti dan makna. Seperti Kota Cimahi yang berasal dari dua siku kata “ci” dan “mahi”. Dua kata ini berasal dari bahasa Sunda. “Ci” berarti cai (air) dan “mahi” mengandung makna cukup.

“Cimahi mengandung arti berkecukupan air,” ujar terang Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) Hermana HMT, Jumat, 23 Oktober 2020.

Hermana HMT yang juga seniman sekaligus ketua komunitas Bandoengmooi, menegaskan Kota Cimahi bukan sekedar nama, namun mengandung makna dan falsafah yang mendalam.

Menurut Hermana, dalam bahasa Sansakerta kata “ci” mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan “mahi” mengandung arti bumi. Jadi Cimahi mengandung arti pancaran cahaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi.

Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina yang juga mengandung arti energi. Sedangkan kata Mahi dalam bahasa Arab merupakan salah satu sebutan bagi Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Mahi yang artinya penghapus atau pembersih.

Hermana menyimpulkan, maknai dua suku kata dari dua bahasa tersebut menunjukkan bahwa Cimahi berarti energi pengahapus atau energi pembersih.

“Menulusuri asal usul kata Cimahi tentu bukan sekedar mengada-ngada. Tapi merupakan analisi empiris bahwa kubudayaan kita sangat dipengaruhi 4 kebudayaan besar, yaitu kebudayaan India (sansakerta), Arab, Cina dan Barat (Amerika dan Eropa), sehingga berpengaruh juga pada penggunaan kata, nama-nama orang dan tempat,” terang Hermana.

Dari paparan asal usul kata itu menunjukan bahwa falsafah Cimahi tidak lepas dari unsur air. Bahkan secara geografis Cimahi dilintasi atau terbelah oleh aliran sungai besar bernama sungai Cimahi. Nama sungai ini kemudian dijadikan nama kota Cimahi.

“Sungai Cimahi adalah sejarah Kota Cimahi, maka sebagai bagian dari masyarakat dan Ketua DKKC saya ingin pemerintah dan masyarakat Kota Cimahi berdayakan Sungai Cimahi khusunya yang ada kawasan komplek Pemkot Cimahi,” ungkapnya.

Untuk itu, komunitas seni Bandoengmooi bersama DKKC akan menggelar Festival Air 2020 – Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi, Sabtu dan Minggu, 24-25 Oktober 2020.

“Kita bangun kembali peradaban melalui sungai sebagaimana raja-raja kita dulu, sungai menjadi salah satu urat nadi bangun perekonomian. Pada konteks sekarang Sungai Cimahi mesti menjadi destinasi pariwisata Kota Cimahi, yakni menyuguhkan budaya yang berhubungan dengan air sungai. Bahkan secara pisik mesti ditata ulang, sehingga punya nilai estetik dan etik,” papar Hermana.

Sebagai kawasan Bandung Utara, Hermana menyebutkan Kota Cimahi bagian utara menjadi tempat serapan air. Tidak heran jika di Cimah Utara banyak ditemukan sumber mata air dan berpengaruh pada perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitarnya yang erat kaitannya dengan air.

Baca juga:

Festival Cai Cimahi
Persiapan Festival Cai Cimahi. (Dok Bandoengmooi)

Berkembangnya zaman dan alih fungsi lahan jadi permukiman membuat kebudayaan yang berhubungan dengan air kini pudar, seiring dengan lenyapnya belasan sumber mata air di kawasan Cimahi Utara.

“Masyarakat sangat jarang melakukan kerja bakti dalam betuk bersih-bersih sungai, bersih-bersih sumber mata air dan malamnya melakukan syukuran dengan menampilkan aneka ragam seni Sunda,” papar Hermana.

Efek dari lenyapnya belasan sumber mata air dan kotornya air sungai di Kota Cimahi berimbas besar pada ketersedian air bersih.

Cimahi yang mengandung makna berkecupan air, sekarang senantiasa kekurangan air bersih terutama di saat musim kemarau, dan banjir kala musim hujan.

Dalam upaya menghindari kelangkaan air bersih dan bencana banjir, tentu diperlukan upaya penanggulangannya.

Selain secara teknik, salah satu penanggulangannya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memulyakan air dan lingkungan, yakni dengan pendekatan budaya, menghidupkan kembali kearifan budaya lokal yang pernah tumbuh.

“Di antara sekian banyak kearifan lokal yang tumbuh di tanah Pasundan ini adalah seni helaran atau Kirab Budaya dan Ngalokat Cai,” ungkap Hermana.

Air harus menjadi media komunikasi atau ajang silaturahmi antar masyarakat bersama pemerintah daerah dalam menyatukan pikiran dan rasa dalam menjaga lingkungan hidup dan budaya lokal.

Multi efek dari kegiatan Kirab Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi diharapkan dapat merangsang kreativitas, tingkatkan produktivitas, kembangkan ekonomi kreatif dan kunjungan wisata berbasis kebudayaan lokal di Kota Cimahi.

Harapan utama dari Festival Ci 2020 adalah lahirnya kesadaran seluruh elemen masyarakat betapa pentingnya memulaiakan air, kerena air adalah sumber kehidupan. Menjadi penting pula menjaga kebersihan air dan lingkungannya dari berbagai pencemaran.

“Tanah terpelihara, air terpelihara dan budaya terpelihara, sehinggi benar-benar mewujudkan Cimahi Maju, Agamis dan Berbudaya,” pungkas Hermana. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here