Tahukah kalau kuliner Nusantara sudah ada sejak abad ke-10 Masehi?

kuliner nusantara
Ilustrasi kuliner nusantara. (Iman Herdiana/Simmanews)

Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Fadly Rahman, M.A. bilang kuliner banyak disebutkan dalam naskah kuno Nusantara.

Sejarawan yang menggeluti sejarah kuliner Indonesia ini menjelaskan, pada naskah tersebut, beberapa kuliner Nusantara sudah ada sejak abad ke-10 Masehi, seperti pecel, sambal, rawon, kerupuk, hingga dawet.

Penulis buku “Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia” ini menyebut, hingga kini, makanan asli Nusantara tersebut masih tetap dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Terdapat perbedaan antara dokumentasi kuliner Nusantara dan kuliner luar. Menurut Fadly Rahman, negara-negara dengan tradisi kuliner yang sudah maju didasarkan atas kuatnya tradisi untuk mencatat resep makanan.

Berbeda dengan Indonesia, tradisi mencatat resep tidak dilakukan oleh para leluhur. Naskah kuno hanya mencantumkan nama-nama makanannya saja. Namun, bukan berarti resep leluhur tersebut tidak terwariskan dengan baik hingga saat ini.

Fadly bilang, resep kuliner tua tetap bertahan karena kemampuan masyarakat Indonesia yang melisankan resep secara turun temurun.

Baca juga:

“Ungkapan seperti ‘jangan telalu banyak garam’, ‘sedikit gula’, inilah yang membedakan tradisi kuliner kita,” kata Fadly Rahman, dikutip dari laman resmi Unpad, Rabu, 28 Oktober 2020.

Karena itu, penulisan resep-resep kuliner Nusantara ini terbilang susah. Selain minim sumber tertulis, proses penulisan resep juga harus merekonstruksi berbagai sumber dari setiap zaman.

Hal inilah yang dilakukan oleh para penulis resep di era kolonial. Mereka mendokumentasikan resep yang berkembang di masyarakat pribumi yang diterbitkan menjadi buku-buku masak.

orang sunda
Fadly Rahman, M.A. (Foto: Dadan Triawan/Unpad)

Pengaruh dari negara lain

Perkembangan kuliner Nusantara juga dipengaruhi oleh faktor luar. Munculnya pengaruh berbagai bangsa, seperti Tionghoa, India, Arab, hingga Eropa, turut menjadikan cita rasa kuliner Nusantara menjadi lebih beragam.

Fadly Rahman mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan sumber sejarah, variasi rasa masakan Asia Tenggara, termasuk Nusantara, sebelum ekspansi bangsa lain, cenderung seragam.

Baca juga:

Dalam suatu komposisi makanan, rasa asing bisa didapat dari ikan yang diasinkan, sedangkan rasa manis bisa didapat dari sadapan nira atau gula merah.

“Pola menunya juga tidak terlalu beragam” imbuh dosen kelahiran Bogor, 27 November 1981.

Ia kemudian menyebut, pengaruh asing menyebabkan cita rasa kuliner menjadi lebih beragam.

Era kolonial juga memunculkan beragam jenis makanan yang sebelumnya tidak ada di masa sebelum kolonial. Era ini kemudian menjadi penentu lahirnya konsep makanan Indische (Indische keuken).

Hibridasi antar berbagai pengaruh kuliner pada masa kolonial kemudian disatupadukan dalam konsep makanan Indische tersebut.

“Campuran dari unsur pribumi kemudian ada unsur Tionghoa, Arab, India, dan Eropa yang disatupadukan yang kemudian disebut konsep makanan Indische,” katanya.

Pascakemerdekaan Indonesia, konsep makanan Hindia Belanda ini kemudian berubah namanya menjadi “makanan Indonesia”. Meski berubah nama, esensi atau jiwanya masih sama.

Konsep tersebut kemudian menjadikan kuliner Indonesia tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia, tetapi menjadi simbol kebangsaan. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here