Seperti sarden, Kolakulaku kemas kolak dan semur jengkol dengan kaleng yang tahan sampai setahun 

Kuliner tradisional Sunda dalam kaleng dari Kecamatan Margahayu (Dok Kolakulaku)
Kuliner tradisional Sunda dalam kaleng dari Kecamatan Margahayu (Dok Kolakulaku)

Kuliner tradisional Nusantara sudah tersohor memiliki kelezatan yang tidak diragukan lagi. Sayangnya, banyak masakan khas dari berbagai daerah di Indonesia yang terkedala waktu konsumsi alias kedaluwarsa.

Tidak mengherankan jika kebanyakan pilihan kuliner yang dibawa sebagai oleh-oleh maupun dipesan online dari suatu daerah terbatas kepada makanan yang tahan lama. Mulai dari beragam makanan kering seperti kerupuk, kue kering, dan ikan asin.

Untuk itu, para pebisnis kuliner tradisional berupaya bekerjasama dengan para peniliti guna menghadirkan kuliner yang awet tetapi tetap sehat. Itulah yang dilakukan Pemilik Kolakulaku, Wina Setiawati dari Taman Kopo Indah 1, Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung

Kolakulaku berkolaborasi dengan Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA LIPI) Yogyakarta mengubah kuliner tradisional yang tidak tahan lama menjadi awet.

Proses tersebut dilakukan tanpa mengubah kandungan gizi maupun rasa dari kuliner tersebut, yakni melalui proses pengalengan.

Kuliner tradisional Sunda dalam kaleng dari Kecamatan Margahayu (Dok Kolakulaku)
Kuliner tradisional Sunda dalam kaleng dari Kecamatan Margahayu (Dok Kolakulaku)

Baca juga:

Awet satu tahun

“Selama ini produk yang saya buat seperti beragam jenis kolak dan semur jengkol, dan lain-lain memiliki umur yang pendek. Sehingga jangkauan pemasarannya tidak begitu luas,” terang Wina Setiawati saat berbincang dengan Simmanews, Minggu 20 Desember 2020.

Wina bilang kerjasama tersebut menghasilkan beragam makanan kalengan yang berasal dari kuliner tradisional Sunda. Antara lain kolak pisang dan semur jengkol yang sampai ini telah tersebar ke berbagai daerah di Tanah Air.

“Semua produk ini tahan selama satu tahun. Sampai saat ini proses pengalengannya masih makloon ke LIPI. Kemarin juga telah kerjasama antara LIPI dan Bappeda Kabupaten Bandung,” ucapnya.

”Produk kuliner ini bisa langsung siap makan (ready to eat) atau bisa
juga dihangatkan terlebih dahulu,” bebernya.

Jadi, makanan kaleng kini bukan hanya ikan atau daging dan aneka manisan, tetapi kolak dan semur jengkol pun bisa dikalengkan. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here