Sejarah masker sebelum flu Spanyol dan pandemi Covid

Sejarah masker sebelum flu Spanyol dan pandemi Covid
Sebelum pandemi Covid-19, dunia pernah mengalami pandemi flu Spanyol. (Foto via situs CDC Amerika Serikat)

Masker kini jadi kebutuhan pokok setiap orang seiring belum berakhirnya pandemi Covid-19. Masker harus dipakai setiap berpergian keluar rumah, di ruang publik, di tempat kerja, dan di tempat-tempat berpotensi terjadi kerumunan.

Dalam catatan sejarah, pentingnya penggunaan masker ternyata bukan di masa pandemi Covid saja. Ahli sejarah Bonnie Triyana bilang, pemakaian masker dapat terlacak di Eropa pada abad ke-17.

Hanya saja bentuk masker abad ke-17 berbeda dengan masker umum saat ini. Masker zaman dahulu berbentuk seperti paruh burung dan dipakai untuk menghadapi wabah penyakit yang melanda masa itu.

Bonnie bilang, masker berbentuk paruh burung dipakai untuk mengurangi penyebaran wabah yang menular lewat udara. Masyarakat masa lalu biasanya mengisi masker paruh burung dengan sejenis rempah-rempah.

Kata Bonnie, dahulu masker dibuat dari bahan-bahan seperti wol tipis hingga bahan-bahan lain yang tersedia di zamannya. “Maskernya itu terbuatnya dari ya seadanya bikinnya, seadanya itu misalkan dari rajutan bahan rajutan kaos kaki atau dari perban atau dari kain kasa,” terang Bonnie, pada talkshow di Graha BNPB yang disiarkan di Youtube dengan judul “Yang Terlupakan (Bagian 4): Sejarah Masker”, baru-baru ini.

Pada perkembangan berikutnya, model dan bentuk masker mengalami perubahan. Pada saat pandemi 1918 atau flu Spanyol, bentuk masker tidak menyerupai paruh burung lagi. Modelnya hampir menyerupai bentuk masker di era kekinian.

“Jadi bentuknya itu yang kalau kita lihat ini hampir mirip-mirip karena dia (masker saat itu) bisa bergerak gitu jadi kalau berbicara bisa gerak-gerak,” terang Bonnie.

Mengutip artikel Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pandemi flu Spanyol atau influenza 1918 adalah pandemi paling parah dalam sejarah umat manusia selama setahun (1918-1919).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat tersebut, pandemi flu Spanyol disebabkan virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Seperti pandemi Covid-19, virus ini menyebar ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, virus ini pertama kali diidentifikasi pada personel militer pada musim semi 1918.

Diperkirakan sekitar 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia terinfeksi flu Spanyol. Jumlah kematian diperkirakan mencapai 50 juta, sekitar 675.000 terjadi di Amerika Serikat. Kematian terjadi pada orang berusia kurang dari 5 tahun, 20-40 tahun, dan 65 tahun ke atas.

Respons masyarakat di masa lalu terhadap masker

Sejarah masker sebelum flu Spanyol dan pandemi Covid
Ahli sejarah Bonnie Triyana. (Dok BNPB)

Sejarah juga mengungkap respons masyarakat terhadap penggunaan masker berubah-ubah dan bervariasi, kata Bonnie Triyana. Misalnya, masyarakat di Amerika Utara lebih menerima penggunaan masker. Namun masyarakat di Kanada tidak menghiraukan penggunaan masker.

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Jejak Covid-19 sampai K-Pop pada motif scarf 

Menikmati cita rasa kuliner khas Prancis di Bandung

“Kalau di Amerika Utara mereka menerima itu sebagai sebuah kewajiban dan cara untuk menjaga apa solidaritas kemanusiaan supaya mencegah penyebaran ya apa wabah pandemi Flu Spanyol,” tutur Bonnie.

Di Kanada, meskipun mendapat perintah penggunaan masker, masyarakatnya di masa lalu lebih banyak yang bandel. Mereka akan memakai masker jika ada polisi yang melakukan razia masker.

Bandelnya masyarakat di masa lalu tak lepas dari minimnya tingkat kesadaran untuk menghindari wabah. Pemakaian masker dianggap tidak nyaman dan terlihat aneh.

Lanjut Bonnie, perbedaan respons masyarakat juga terjadi karena pemahaman dan pengetahuan terhadap wabah yang berbeda-beda.

“Kalau melihat sejarah kebanyakan respons dari masyarakat itu kan sangat tergantung pada tingkat pemahaman mereka yang juga sangat tergantung pada pengetahuan mereka atas wabah yang terjadi itu, semakin mereka tidak tahu kan semakin mereka abai,” jelasnya.

Lawan pandemi dengan pendekatan budaya

Sejarah masker sebelum flu Spanyol dan pandemi Covid
Sebelum pandemi Covid-19, dunia pernah mengalami pandemi flu Spanyol. (Foto via situs CDC Amerika Serikat)

Bonnie juga menyinggung pandemi flu Spanyol yang masuk Hindia Belanda (Indonesia). Pemerintah kolonial waktu itu merespons wabah dengan pendekatan kultural, yakni melalui media wayang. Pemerintah mencetak pamflet yang mengadaptasi kisah Ramayana.

“Justru pemerintah Hindia Belanda saat itu mencoba menggunakan pendekatan kultur budaya untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit ini dan untuk mensosialisasikan bagaimana upaya pencegahannya,” tuturnya.

Namun Bonnie tidak menemukan sejarah yang menjelaskan penggunaan dan manfaat masker di nusantara. Kendati demikian, ia mengungkap adanya praktek pembatasan sosial untuk menghindari infeksi virus. “Di nusantara sudah diterapkan lockdown atau PSBB,” katanya.

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Karena pandemi Covid-19, ruang kerja atau rumah ber-AC tidak lagi relevan 

Memahami Virus Corona Menyebar di Udara 

Menurutnya, lockdown atau PSBB di masa pandemi flu Spanyol di nusantara dilakukan dalam skala desa atau kampung yang terkena wabah. “Misalkan satu desa kalau ada yang kena wabah itu tidak boleh kemana-mana harus tetap tinggal di rumah itu sudah ada,” tambahnya.

Bonnie bilang, menghadapi pandemi Covid saat ini perlu belajar dari masa lalu. Dibutuhkan cara-cara yang lebih kreatif dan menyenangkan agar masyarakat memahami pentingnya melakukan pencegahan penularan Covid-19. Terlebih jika pemerintah ingin mentarget anak muda. Selain materi, medium dan cara menyampaikan sebuah pesan juga penting untuk diperhatikan.

“Mensosialisasikan pengetahuan mengenai wabah ini sendiri itu harus terus diberikan dengan cara yang kreatif mungkin buat anak muda dan yang tentu saja yang masif gitu ya, banyak anak muda sekarang kan kalau dikasih cara yang membosankan gitu mereka gasuka,” tegasnya.

Bonnie mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui cuci tangan, menjaga sanitasi, dan tidak melakukan kegiatan yang berisiko menyebarkan Covid seperti kumpul-kumpul.

Ia berharap ada kerja sama antara komunitas dan pemerintah untuk sama-sama mendorong kesadaran pentingnya menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid. “Tidak hanya soal pakai masker tapi juga apa namanya cuci tangan, menjaga sanitasi, kemudian juga tidak melakukan hal-hal yang berpotensi ke arah penyebaran,” ujarnya. (Iman Herdiana/Simmanews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here