SDF luncurkan tongkat difabel netra kekinian buatan anak bangsa

difabel netra Tongkat BriCane yang diluncurkan Syamsi Dhuha Foundation (SDF). (Dok SDF)
Tongkat BriCane yang diluncurkan Syamsi Dhuha Foundation (SDF). (Dok SDF)

Syamsi Dhuha Foundation (SDF), ogranisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan, meluncurkan BriCane (Brilliant Cane), tongkat kekinian difabel netra. Tongkat serba guna ini dilengkapi aplikasi dan sensor canggih.

Unsur kebaruan dari tongkat BriCane adalah dilengkapi aplikasi pelacakan keberadaan difabel netra saat disorientasi/kehilangan arah atau tersesat di suatu tempat.

Tongkat juga dilengkapi sensor penghalang yang keluarkan bunyi dan getar. Pada ujung tongkat dilengkapi alat yang memudahkan difabel netra untuk bertumpu saat naik/turun tangga serta saat di tanjakan/turunan.

Tongkat ini diluncurkan SDF secara daring terkait momentum Hari Penglihatan Sedunia/World Sight Day (WSD) 2020.

SDF yang juga sebagai nirlaba peduli Low vision (Lovi), merilis tongkat sebagai bagian dari rangkaian akhir dari kegiatannya di Oktober yang merupakan bulan peduli penglihatan, dengan tema ‘Creativity creates opportunity’.

Dian Syarief, Ketua SDF, menjelaskan proses pengembangan BriCane berawal dari salah satu pemenang Lomba Desain Alat Bantu Difabel Netra yang diadakan SDF pada 2017.

Baca juga:

Tim pengembang SDF adalah Hardtmann Mekatroniske, sekelompok anak muda alumni ITB pengembang alat kesehatan didukung pula oleh tim relawan dari Prodi Desain Produk & Biomedika ITB.

Tim telah lakukan serangkaian uji coba beraneka jenis tongkat dan perangkat serta beberapa kali perubahan dengan pertimbangkan pula hasil uji coba dan masukan para pengguna, yakni difabel netra, hingga sampai ke tahap yang sekarang ini.

Dian Syarief mengatakan tongkat sejenis sebenarnya sudah ada. Namun tongkat tersebut buatan luar negeri dengan kisaran harga sekitar Rp9 juta.

“Hadirnya BriCane jadi alternatif bagi DN tuk peroleh harga lebih murah 60 – 70% dari tongkat impor,” jelas Dian Syarief, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Sementara itu, Eko Pratomo, pendiri SDF, menambahkan tongkat difabel netra impor memang lebih mudah didapatkan. “Tinggal transfer dan barang pun datang. Tapi apakah memang kita tak bisa membuat sendiri alat bantu yang dibutuhkan ini?” katanya.

difabel netra

Hal itulah yang membuat SDF untuk terus berkreasi, berinovasi dan membangun kemandirian khususnya dikalangan anak muda.

“Tak mudah patah, tak mudah menyerah agar kita tak menjadi bangsa yg miskin ide dan terus berinovasi. Mampu lihat dan tangkap peluang dari celah sempit serta mampu siasati kesulitan yang ada. BriCane pun menjadi pilihan karena selain karya anak bangsa juga aspek TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang termuat di dalamnya,” katanya.

Untuk diketahui, terdapat 43 juta difabel netra (Totally Blind/TB) dan 295 juta Lovi di dunia menurut IAPB (The International Agency for the Prevention of Blindness). Mereka sebagian besar berada di negara berkembang. Di Indonesia ada 3,7 juta TB dan 10,8 juta Lovi.

Baca juga:

Laila Panchasari, Manajer SDF, menambahkan masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk membantu TB dan Lovi agar tetap bisa beraktivitas dan produktif, antara lain pengadaan alat bantu, pelatihan ketrampilan dan deteksi dini masalah penglihatan yang dapat cegah kerusakan lebih parah.

Maka Low Vision Center yang ada di SDF diharapkan dapat memfasilitasi penyandang difabel netra untuk berinteraksi, berkreasi dan sebagai penghubung dengan berbagai lembaga/institusi lainnya.

Acara peluncuran BriCane secara daring ini hadirkan pula Bambang Basuki, pendiri/Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, yang memfokuskan programnya pada upaya tingkatkan kualitas dan partisipasi difabel netra di bidang pendidikan dan lapangan kerja.

Mitra Netra telah meraih banyak penghargaan dari dalam maupun luar negeri, antara lain Google, Ogilvy dan Kemenparekraf RI sebagai Pahlawan Inovasi Indonesia atas kepeloporannya dalam gunakan internet untuk kepentingan Pendidikan DN.

Acara dimeriahkan Hendra JP, musisi & arranger difabel netra yang manfaatkan teknologi dalam bermusik. Juga diwarnai lagu tematik sebagai penyemangat para peserta yang dibawakan Lovi Kasyfi Kalyasyena yang tengah bersekolah musik di Belanda, dan the Lulo – kelompok musik SDF & DN Nenden Shintawati – vokalis dan pencipta lagu. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here