Robohnya Jembatan Mangrove dan cerita korban Tsunami Pangandaran

Jembatan mangrove
Jembatan mangrove Pangandaran, Jawa Barat. (Iman Herdiana/Simmanews)

Jembatan Hutan Mangrove di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sempat menjadi destinasi wisata yang ngehits pada 2017-an. Kini kondisi jembatan sudah banyak yang lapuk dan runtuh.

Meski demikian, pohon-pohon mangrove di muara terakhir sungai Cijulang itu tumbuh subur alami. Pada Agustus 2020 lalu, Simmanews jalan-jalan ke hutan mangrove sekaligus menengok jembatan yang sempat dijuluki Jembatan Cinta.

Akses menuju jembatan mangrove bisa melalui Kecamatan Parigi, tepatnya di utara Pantai Batukaras. Di sepanjang jalan terdapat permukiman khas pangandaran dengan halaman luas dan penuh pohon kelapa, mangga, yang diselingi lahan-lahan luas dan sawah-sawah.

Akses menjuju jembatan mangrove ditandai dengan gapura bertuliskan “Selamat Datang di Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Kabupaten Pangandaran”. Dari sini perjalanan berlanjut melewati kolam-kolam ikan air payau yang diolah para petani ikan jaer dan udang.

Sudah lama petani ikan tidak menanam udang karena harga pakan yang mahal dan susah akibat pandemi Covid-19. Pakan udang berasal dari impor, sementara pandemi corona bikin perdangangan antar negara tutup.

Para petani akhirnya memutuskan menanam ikan jaer yang posturnya mirip ikan nila. Pada musim pandemi corona prosfek ikan jaer justru bagus. Mereka mendapat pesanan dari pemerintah kabupaten Pangandaran untuk mengisi komponen bansos.

Pos jembatan mangrove Pangandaran
Pos jembatan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)

Jembatan mangrove tak jauh dari kolam-kolam ikan jaer itu. Warga sekitar sempat memberi tahu bahwa jembatan tersebut sudah tidak bisa dipakai, sudah rusak parah.

Dari kolam ikan jaer yang masuk wilayah Kampung Kalapa Tiga, perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki melewati sawah dan kolam ikan. Pohon-pohon kelapa tumbuh subur dan berbuah pendek, bisa dipetik tanpa harus memanjat.

Tanda jembatan mangrove berupa pos yang berbentuk gubuk dari bambu beratap rumbia. Tampaknya pos tersebut sudah lama ditinggalkan, terlihat kumuh dan kesepian. Di bagian atas pos tertulis dalam huruf kapital: “TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN”.

Di dalam pos sederhana itu terdapat spanduk edukasi tentang pentingnya mangrove, tanaman hutan payau yang punya banyak nama asing seperti tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen. Namun warga lokal cukup menyebutnya hutan bakau saja.

Bibit mangrove di dekat jembatan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)
Bibit mangrove di dekat jembatan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Dijelaskan bahwa tanaman pohon di hutan payau ini tumbuh di atas rawa yang terletak di garis pantai.

Hutan payau dipengaruhi pasang surut air laut dan posisinya di sekitar muara sungai. Sungai Cijulang yang satu garis dengan Green Canyon muaranya di hutan mangrove ini. Tumbuhan di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan laut.

Disebutkan pula bahwa manfaat hutan mangrove berperan dalam pembentukkan pulau dan menstabilkan daerah pesisir, mencegah erosi dan abrasi pantai, penyaring alami, dan masih banyak manfaat lainnya.

Keberadaan hutan mangrove di Pangandaran sangat tepat karena daerah ini punya pangalaman buruk saat terjadi bencana tsunami pada 2006. Sejumlah daerah di pesisir pantai tersapu bencana tsunami yang tak disadari datangnya.

Biasanya tsunami ditandai tengan gempabumi. Namun tidak demikian dengan tsunami Pangandaran di mana banyak warga yang tidak merasakan gempa.

BMKG mencatat pusat gempa terjadi di lepas pantai Pangandaran dengan kekuatan M 7.7. Berdasarkan perhitungan ahli gempa dan tsunami, gempa dengan kekuatan ini biasanya tidak menimbulkan tsunami lebih dari 5 meter.

Bekas warung di jembatan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)
Bekas warung di jembatan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)

Tetapi gelombang tsunami Pangandaran tingginya mencapai 21 meter. Hal ini membuat banyak ahli yang geleng-geleng kepala.

WHO mencatat jumlah tsunami Pangandaran mencapai 668 jiwa dan 65 hilang. Tsunami Pangandaran berbeda dengan tsunami Aceh yang didahului gempa besar berskala 9,1–9,3 dan surutnya air laut yang disusul bangkitnya gelombang setinggi 30 meter.

Daryo, salah satu warga Kecamatan Cijulang yang selamat dari tsunami Pangandaran, menuturkan Kampung Kalapa Tiga yang kini menjadi hutan mangrove dulunya hancur akibat sapuan tsunami.

Daryo tinggal di belakang Masjid Al Bahar dan pohon-pohon kelapa serta sejumlah pohon besar sehingga terlindung dari amukan tsunami. “Banyak warga yang ngungsi ke saya,” tutur Daryo, yang ditemui di jalan menuju Jembatan Hutan Mangrove.

Saat ini Daryo mengolah kolam ikan jaer. Sebelumnya ia nelayan dan ia masih punya tiga unit perahu yang dijalankan anaknya.

Jembatan Hutan Mangrove, kata Daryo, terakhir peroperasi pada 2019. Kini jembatan ini tak terurus karena kekurangan modal dan butuh perhatian pemerintah. Padahal mangrove penting dalam menjaga kelestarian alam, salah satunya mempertahankan daratan dari gerusan air laut termasuk menahan tsunami yang bisa datang suatu waktu.

Sejak dulu Pangandaran memang sudah punya pohon mangrove. Masyarakat Pangandaran sudah banyak yang memetik manfaat dari mangrove, di antaranya untuk kayu bakar.

Keberadaan hutan mangrove maupun jembatannya penting sebagai wahana edukasi masyarakat sehingga pohon mangrove tak hanya ditebang sebagai kayu bakar.

“Kalapa Tiga awalnya laut, sama mangrove jadi daratan,” kata Daryo.

Pohon-pohon mangorove tumbuh subur, rimbun, dan rapat di atas air yang sesekali tersibak ombak pantai selatan. Suasana hutan ini mengingatkan pada film Swamp Thing. Nuansa alam sangat kuat terasa; teduh, sejuk, dan sepi walau di luar matahari sedang terik-teriknya.

Di kejauhan terdengar deburan ombak yang rembetannya sampai ke hutan mangrove, suaranya seperti ikan besar yang bermain air.

Banyak suara burung dan lubang-lubang bekas kepiting bertelur di daratan yang terdiri dari pasir dan tanah halus.

Hutan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)
Hutan mangrove Pangandaran. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Bagian dalam hutan mangrove masih terdapat sisa ‘kejayaan’ Jembatan Hutan Mangrove yaitu berupa warung-warung tenda yang menyimpan beberapa etalase yang sudah berdebu. Nasib warung tersebut sama menyedihkannya dengan jembatan yang rapuh dan sebagian sudah runtuh.

Di sekitar warung dan jembatan banyak berceceran sampah plastik, sebagian ada yang terombang-ambing di atas air dan terjebak akar dan batang mangrove yang menjalar liar.

Ada pula benih-benih tanaman mangrove yang baru tumbuh sebesar lidi dan saling berhimpitan. Mereka seperti menunggu tangan-tangan dingin yang memindahkannya ke tempat yang lebih leluasa agar bisa tumbuh besar melindungi kawasan pantai dari kemungkinan tsunami.

Pangandaran sendiri masuk dalam wilayah pantai selatan Jawa yang rawan bencana gempa dan tsunami. Daerah ini berada di zona gempabumi akibat aktivitas tumbukan antara lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia.

Kedua tumbukan di zona ini terus terjadi dan berpotensi menimbulkan gempabumi di masa depan. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here