Rahasia sukses pengusaha sapi Sayati berawal dari jual sayur keliling

pengusaha sapi
Aang Gunawan (Instagram Aang Gunawan)

Cinta Asih bagi warga desa Sayati, Kabupaten Bandung, sudah familiar dikenal sebagai perusahaan perdagangan sapi atau daging. Siapa kira usaha peternakan yang kini memiliki 900 ekor sapi itu berawal dari jualan sayur keliling?

Sapi milik Cinta Asih tersebar di beberapa kandang di kecamatan Margahayu dan Margaasih, Kabupaten Bandung. Saat ini Cinta Asih akan membuka kandang baru di Subang.

Selain memasok kebutuhan daging sapi untuk sebagian wilayah Bandung, Cinta Asih juga memproduksi makanan olahan seperti bakso dan dendeng, dan bermacam produk turunan sapi lainnya.

Cinta Asih kini dilanjutkan generasi kedua, Aang Gunawan atau akrab disapa Haji Aang. Saat berbincang dengan Simmanews, pengusaha muda kelahiran 1982 tersebut menuturkan di balik berkibarnya brand Cinta Asih ada perjuangan panjang orang tua yang patut diteladani generasi penerus.

Cinta Asih dirintis ayahnya Haji Aang, yakni Haji Uyun, sejak 1980. Waktu itu Haji Uyun tidak langsung jualan sapi atau daging, melainkan tukang sayur keliling.

Haji Uyun, cerita Aang, kelahiran 1952. Haji Uyun tipe orang yang tekun dan konsisten. “Basis usahanya itu jualan sayur keliling dari 1980-an, memikul sayur,” cerita Aang, awal Agustus 2020.

Berkat ketekunan menjual sayur keliling, Haji Uyun berhasil melebarkan usahanya di Pasar Ciroyom, Kota Bandung, sampai mampu menjadi bandar sayur di pasar tua tersebut.

Di Pasar Ciroyom, Haji Uyun kemudian menjual daging sapi. Tahun 1985, usaha Haji Uyun terus meningkat sampai bisa membuka usaha penjualan daging sapi di Pasar Sayati, lalu pindah ke Pasar Sayati Indah.

“Waktu itu masih jualan daging eceran,” cerita Aang.

Mulai 1997, ketika Aang masih SMA, bapaknya melebarkan usaha dengan mendatangkan bibit sapi dari Jawa. Inilah awal mula Haji Uyun memulai bisnis baru, yaitu jual beli sapi.

Awalnya Haji Uyun berhasil membeli 16 ekor sapi dan disembelih di Rumah Potong Hewan Gandasoli milik Pemkab Bandung. Sasaran pasarnya jelas, penyediaan sapi kurban untuk hari raya Idul Adha.

Dari Tebuireng ke rumah jagal

Sejak kecil, Aang sendiri sudah terdidik wirausaha oleh ayahnya. Aang mengenyam pendidikan pesantren di Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

pengusaha sapi
Aang Gunawan (Instagram Aang Gunawan)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Selama 4 tahun ia mendalami ilmu agama di pondok pesantren yang didirikan kakek Gus Dur, Hadhrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pada 1899.

Selesai mondok dari Tebuireng, ia pulang kampung dan melanjutkan sekolah di SMP Soreang.

Aang menamatkan SMP dan SMA-nya di Bandung. Di sela sekolah ia sudah biasa membantu-bantu bisnis orang tuanya jualan daging.

“Di masa remaja saya sudah belajar mobil sambil pulang pergi ke tempat jagal. Belajar sekolah pun sering di tempat jagal,” katanya.

Keterlibatannya di bisnis peternakan sapi membuatnya bertekad ingin melanjutkan dan mengembangkan bisnis daging. Ia mengambil kuliah peternakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) selama tiga tahun. Selanjutnya ikut program ekstensi di peternakan Unpad sampai 2006.

Selama kuliah ia harus bolak-balik antara kampusnya di Unpad dan ke kandang sapi maupun rumah jagal (RPH). Baginya, usia muda waktunya bekerja keras, tak ada waktu main-main seperti anak-anak mudia seusianya.

Namun resikonya ia harus pandai membagi waktu antara kuliah dan jualan daging. Mengerjakan dunia pendidikan dan bisnis dalam waktu yang bersamaan memang butuh kerja keras.

Saat pergi ke kampus Unpad Jatinangor, Sumedang, matanya sering merah karena kurang tidur.

Suatu waktu ia pernah ada yang menawarkan narkoba, padahal mata merahnya bukan karena mabuk melainkan karena begadang bisnis daging sapi, mengurus kandang, atau sibuk di tempat jagal.

Menghadapi masalah sapi impor

Aang melanjutkan usaha orang tuanya pada 2009. Bisnis daging sapinya terus berkembang. Pada 2000 Aang bikin kandang di Kecamatan Margahayu dengan kapasitas 40 ekor. Kapasitas kandangnya terus berkembang menjadi sampai 180 ekor sapi.

Tahun 2010 melebarkan lagi usaha membuka lagi kandang di Desa Nanjung Kecamatan Margaasih dengan kapasitas 600 ekor dan di Pangalangan 225 ekor.

Penyembelihan sapi tidak hanya di RPH Gandasoli, melainkan di RPH Ciranjang dan RPH Ciroyom.

Selama merawat sapi-sapinya, bisnis jualan daging di pasar terus jalan. Pasar utama Cinta Asih tetap, yaitu memasok kebutuhan hewan kurban di hari raya.

Daging sapi (Instagram Aang Gunawan)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

“Kita menjual sapi per momen, misalnya Idulfitri dan Iduladha. Dalam momen tersebut harga relatif lebih tinggi,” kata Aang.

Bisnis sapi memang menjanjikan namun tak semudah kelihatannya. Di balik bisnis hewan pedaging ini, ada banyak tantangan.

Salah satu tantangan paling besar justru justru kebijakan pemerintah soal impor sapi atau daging.

Ketika keran impor dibuka, harga daging-daging sapi lokal terpukul. Mereka akan kesulitan menentukan harga.

“Kebijakan impor daging itu membuat harga jual kita ga bisa naik,” katanya.
Aang melalui Cinta Asih bisa memasok sampai 120 ekor sapi per hari untuk Kota Bandung. Namun dengan adanya daging impor, target 120 ekor sapi bisa tidak tercapai.

Kendala lain ialah bibit yang harus didatangkan dari Jawa Timur. Harga bibit sapi juga tidak murah.

Untuk mensiasati masalah tersebut, Cinta Asih berusah melakukan efisiensi dengan memanfaatkan momen. Jika harga sapi sedang murah, Cinta Asih belanja. Sebaliknya jika sapi sedang mahal, Cinta Asih mulai menjual.

Siasat lain ada di pakan ternak, salah satunya, dengan memproduksi pakan sendiri. Mengandalkan pakan ternak buatan sendiri ini cukup menekan biaya produksi.

Pengeluaran bisnis ini tidak sedikit. Misalnya, pengeluaran rutin untuk membayar upah pegawai. Saat ini Cinta Asih diperkuat 60 karyawan.

Terlepas dari tantangan tersebut, prosfek dunia peternakan khususnya sapi masih terbuka lebar. Regenerasi peternak sapi juga berjalan baik. Ini dibuktikan dengan Aang yang merupakan regenerasi dari usaha ayahnya, Haji Uyun.

Menyimpan rasa malu dan Bikers Brotherhood

Apa yang dilakukan Aang tak lepas dari pepatah orang tua, bahwa dalam hidup gengsi harus dikesampingkan. Ia menjalani nasihat Sunda, “Simpen kaera, ajukeun kahayang, jalankeun kajujuran” (Menyimpan rasa malu alias tidak gengsian, bekerja keras, dan jujur).

pengusaha sukses
Aang Gunawan (Instagram Aang Gunawan)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

“Mungkin kebanyakan barudak sekarang gengsi. Mereka lebih memilih kerja di pabrik dengan gaji 1,5 juta daripada gawe pembantu, misalnya. Padahal kerja pembantu sekarang bisa UMR atau sekitar 2 juta, belum dikasih makan,” katanya.

Di sela kesibukannya bisnis sapi, Aang punya hobi otomotif, yaitu motor gede dan mobil tua. Sesekali ia melakukan turing dengan Norton atau Harley Davidson-nya. Di rumahnya juga mejeng mobil Ford dan Dogde antik tahun 1952.

Ia tercatat aktif di Bikers Brotherhood sejak 2016. Hobi atau berkomunitas penting untuk menimba ilmu dari sesama anggota.

Karena itu ia aktif di komunitas one percenter (1%) tersebut. “Komunitas itu kayak kuliah. Kan 40 persen ilmu itu di kuliah, lebihnya di relasi dari komunitas. Di Brotherhood, misalnya, kita jadi punya banyak link,” katanya.

Bisnis dunia akhirat

Cinta Asih tak melulu mengurus bisnis duniawi. Brand Cinta Asih merupakan terjemahan bebas terhadap istilah Al Quran, Arrohman dan Arrohim (pengasih dan penyayang).

pengusaha sukses
Pesantren Habiburrahman (Instagram Aang Gunawan)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Pemaknaan dari kitab suci itu diwujudkan Cinta Asih lewat keseimbangan bisnis dunia dan akhirat dengan membuka Pondok Pesantren Tahfidz Habiburrahman di Jalan Kopo-Sayati, Gg Nata 2 RT 05 RW 05 Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.

Pesantren Habiburohman dibuka awal tahun 2020, hampir bersamaan dengan pandemi global Covid-19. Jumlah santrinya baru 80 santri yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia.

Dan semua santrinya mendapat pendidikan agama cuma-cuma atawa gratis. Saat ini, pendidikan di Habiburahman masuk angkatan kedua. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here