Perpustakaan Noong, rumah buku kebanggaan warga Katapang

buku
Perpustakaan Noong di Katapang Kabupaten Bandung. (Dok Perpustakaan Noong)

Ratusan buku berderet di rak-rak kayu pada sebuah rumah  di Jalan Ceuri Nomor 4, Desa Katapang Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung. Ada pula tumpukan buku yang masih tersimpan dalam kardus, tidak tertampung rak sederhana itu.

Itulah suasana yang akan terlihat kala memasuki Perpustakaan Noong, sebuah komunitas literasi yang berdiri 2016. Koleksi buku komunitas ini sekitar 2.000 eksemplar.

Buku-buku tersebut sebagian milik pribadi dari sang pendiri sekaligus pemilik Perpustakaan Noong, Lina Nursanty dan suaminya, sebagian lagi hasi donasi dari beberapa rekan yang peduli literasi.

“Ide pendirian perpustakaan ini berawal dari saya dan suami punya buku. Di kampung (tempat tinggal) enggak ada tempat baca buku. Kami ada tempat. Ya sudah bikin perpustakaan,” cerita Lina Nursanty kepada Simmanews.com belum lama ini.

Angan Lina tidaklah muluk tentang tempat literasinya, dia hanya ingin perpustakaan tersebut menjadi tempat warga sekitar rumahnya mendapatkan ilmu pengetahuan.

“Kebanyakan koleksi buku humaniora dan anak-anak. Harapannya ini menjadi tempat alternatif bagi anak-anak dan warga kampung dalam mendapatkan asupan bergizi bagi pikirannya,” imbuhnya.

Baca juga:

Selama pandemi Covid-19 ini, Lina terpaksa menghentikan kegiatan Perpustakaan Noong yang dikelolanya sendiri.

Pasalnya ruangan perpustakaan yang banyak dikunjungi anak-anak ini, memiliki keterbatasan menjaga jarak di antara pengunjung.

“Belum memungkinkan untuk menerapkan protokol kesehatan karena tempatnya kecil banget. Jadi pasedek-sedek (penuh dalam bahasa Indonesia),” sambungnya.

Perpustakaan Noong di Katapang Kabupaten Bandung. (Dok Komunitas Noong)
Perpustakaan Noong di Katapang Kabupaten Bandung. (Dok Perpustakaan Noong)

Noong untuk menumbuhkan kreativitas

Sebelum pandemi Covid-19, Lina memang tidak menerapkan sistem peminjaman buku untuk dibawa pulang. Melainkan hanya menyediakan buku-buku untuk dibaca di perpustakaan.

Selain kegiatan membaca buku, perpustakaan yang mengambil nama dari bahasa Sunda Noong berarti mengintip ini menggelar berbagai kegiatan untuk menumbuhkan kreativitas warga.

“Biasanya pada masa normal, rutin menggelar pelatihan jurnalistik dan pengenalan musik klasik,” terang Lina yang juga berprofesi sebagai penulis ini.

Untuk kedua aktivitas tersebut, Lina menghadirkan relawan sebagai mentor dalam bidang masing-masing. Lokasi kegiatan ini berlangsung di halaman perpustakaan. “Tetapi sekarang off juga,” ucapnya.

Hambatan terbesar dalam mengembangkan perpustakaan menurut Lina pengelolaannya masih sendiri tanpa ada pustakawan.

“Kekurangan tenaga yang jaga karena enggak ada sumber dana untuk pustakawan,” tutupnya. (Yatni Setianingsih/simmanews.com)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here