Perjuangan tukang becak dan delman Sayati di tengah pandemi corona

Tranasportasi umum becak di Desa Sayati (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Tranasportasi umum becak di Desa Sayati (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Sebagai bagian dari perkembangan teknologi, alat transportasi dari waktu ke waktu terus berevolusi dan terkadang hilang. Begitupun dengan alat transportasi umum yang ada di Desa Sayati, Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung.

Di desa urban ini, sampai saat ini masih terdapat alat transportasi umum konvensional yang tidak menggunakan mesin berteknologi tinggi. Yakni delman dan becak, kedua transportasi umum ini, masih ada namun keberadaannya mulai tergilas zaman.

“Dulu sebelum corona, memang penumpang becak sudah berkurang, tetapi setelah corona ini semakin berkurang,” ujar pengayuh becak di pintu masuk Komplek Taman Kopo Indah (TKI) I, Ajah (45 tahun) kepada Simmanews, Selasa 19 Januari 2021.

Ajah yang telah menggeluti profesi ini sejak 1995 ini mengaku, sebelum pandemi Covid-19 penurunan jumlah penumpang telah terasa, karena banyak yang beralih menggunakan transportasi umum online.

“Sementara setelah corona, penurunan terus terjadi karena banyak penumpang becak yaitu para pekerja yang di PHK (pemutusan hubungan kerja),” sambungnya.

Selain itu, penumpang lainnya yaitu anak sekolah, karena pandemi Covid-19 ini semuanya sekolah online.

Baca juga:

Hal yang sama diamini penarik becak lainnya, Sugiyanto (65 tahun), terkadang dalam sehari tidak menarik penumpang.

“Saya paling jauh narik sampai TKI 2 tarifnya Rp15.000 – Rp20.000 per penumpang, sementara kalau ke dalam TKI I Rp10.000. Terkadang juga enggak sampai segitu gimana punyanya penumpang,” ucapnya.

Keduanya mengaku tetap bertahan, karena tidak ada pilihan lain. Sebelum menjadi pengayuh becak, masing-masing dari mereka pernah berjualan tetapi sayangnya bangkrut.

Sebelum pandemi Covid-19 jumlah becak yang beroperasi di sini, mencapai 35 becak. Sekarang jumlahnya hanya mencapai 3 becak.

“Ini becak sewaan dari juragan becak, harga sewanya Rp8.000 per hari. Tapi dalam sehari kadang enggak narik satu pun penumpang, jadi berat juga bayarnya,” kata Ajah.

Nasib delman

Hal senada diungkapkan kusir delman Momo (50 tahun), sebelum Covid-19 jumlah penumpang sudah mulai menurun. Tetapi sejak pandemi ini kata Momo terus menurun. Hal itu Momo rasakan dari waktu ngetem (tunggu) penumpang.

Transportasi umum delman di Desa Sayati (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Transportasi umum delman di Desa Sayati (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Dahulu waktu ngetem hanya 30 menit sudah bisa mengangkut penumpang penuh yaitu 5 penumpang, sementara saat ini kata Momo, ngetem bisa sampai 1-2 jam, terkadang hanya mengangkut 2-3 penumpang.

“Sekarang kan enggak ada anak sekolah, banyak yang kerjanya di PHK ditambah banyak yang punya sepeda motor, dan ojek online,” keluhnya.

Momo mengaku jika sedang ramai pendapatannya paling tinggi hanya mencapai Rp80.000, dengan pengeluaran Rp30.000 untuk pakan kuda.

“Memang delman milik sendiri, selain itu sewa istal (kandang kuda) Rp150 ribu per bulan. Rp2.000 per hari untuk kebersihan juga. Baru sisanya untuk keluarga, ” kata Momo yang menggeluti profesi ini meneruskan ayahnya.

Dahulu jumlah delman di kawasan ini  mencapai 200 delman, sementara sekarang tinggal 30 delman. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here