Percaya tidak kalau ikan asin ternyata tinggi protein?

Ikan asin (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Ikan asin (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Ikan asin cenderung dipandang sebagai makanan murahan, tidak bergizi, dan kurang sehat. Rupanya semua anggapan ini hanya mitos. Karena faktanya, ikan yang diasinkan memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan ikan basah.

Menurut Dr dr Gaga Irawan Nugraha MGizi, SpGK, setiap sumber makanan yang mengandung protein yang dikeringkan, termasuk diasinkan, memiliki kadar protein lebih tinggi dari pada makanan sumber protein segar.

Gaga Irawan yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Cabang Jawa Barat bilang, jadi tidak benar jika ikan asin dituding sebagai makanan tidak bergizi.

“Ikan asin ada gizinya, proteinnya tinggi. Hanya yang jadi masalah garamnya ketinggian. Karena ikan asin itu supaya awet pakai garam,” kata dr Gaga Irawan, baru-baru ini.

Baca juga:

Hanya saja, tingginya kandungan garam membuat ikan asin tidak bisa dikonsumsi semua orang. Misalnya, orang yang memiliki penyakit darah tinggi atau hipertensi tidak boleh mengonsumsi ikan asin.

“Sebab tidak baik bagi tekanan darah,” jelas Gaga.

Sehingga untuk orang yang tidak punya darah tinggi, boleh-boleh saja mengonsumsi ikan asin. Gaga juga mengingatkan konsumsi ikan asin tidak boleh berlebihan. Pada dasarnya, setiap makanan tidak boleh dikonsumsi berlebihan karena tidak baik bagi kesehatan.

Dalam setiap 100 gram ikan asin, sebut Gaga, kadar proteinnya lebih tinggi dibandingkan ikan segar. Sebagai gambaran, sumber protein terdiri dari nabati dan hewani. Ikan asin termasuk makanan kaya protein hewani.

Menurutnya, ikan segar yang merupakan bahan dasar ikan asin  mengandung protein, lemak, berbagai macam vitamin, dan mineral.

Ketika ikan segar dikeringkan, semua gizi tersebut hilang kecuali proteinnya. “Protein dalam ikan tidak akan hilang walaupun dikeringkan dan diasinkan,” terang Gaga.

Dengan pengeringan dan pengasinan, protein tersebut justru lebih padat. “Ketika menimbang 100 gram ikan, maka banyaknya air. Kalau menimbang 100 gram ikan asin airnya sudah hilang jadi proteinnya lebih banyak,” tambahnya.

Ikan asin bisa menjadi menu alternatif di masa pandemi COVID-19. Protein berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Sedangkan di masa pandemi orang dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, membeli makanan pun sebaiknya disiasati dengan memilih makanan yang tahan lama sehingga tidak perlu bolak-balik ke pusat perbelanjaan.

Makanan yang dipilih di musim pandemi harus yang awet dan memiliki kepadatan nutrisi dan protein. Sehingga ikan asin bisa menjadi pilihan selain dendeng atau kere, abon, maupun makanan kaleng.

Baca juga:

Tidak heran jika para pencinta alam memilih makanan yang awet dan praktis seperti ikan asin ketika hendak melakukan ekspedisi.

Gaga yang pernah menjadi penasihat gizi untuk tim ekspedisi tim seven summits, menyarankan kepada tim ekspedisi agar membekal makanan ringan yang praktis sekaligus padat energi seperti ikan asin, dendeng atau kacang kering yang merupakan sumber protein nabati.

“Jadi kalau mau alternatif lain (selain ikan asin), saran saya pilih kacang kering, kacang tanah atau kacang hijau. Itu kan kering-kering. Yang kering-kering itu proteinnya justru padat,” katanya.

Ilustrasinya, antara kacang segar dan kacang kering kepadatan energinya lebih tinggi kacang kering. “Karena airnya hilang,” tandasnya. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here