Pahit manis pengalaman Dina Maliah di dunia perhotelan

Ibarat kopi dan gula, pahit manis pengalaman Dina Maliah di dunia perhotelan (Instagram: @dhinathea)
Ibarat kopi dan gula, pahit manis pengalaman Dina Maliah di dunia perhotelan (Instagram: @dhinathea)

Profesi Human Resources Manager (HR Manager) atau personalia dalam dunia perhotelan (hospitality) tak hanya berurusan dengan perekrutan pegawai. Profesi ini juga harus mampu menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar bekerja.

Inilah pengalaman yang dipetik Dina Maliah, yang sudah lebih dari satu dasawarsa berkecimpung dalam dunia HR Manager di berbagai hotel di Indonesia.

Perempuan kelahiran Kota Bandung ini mengawali karier dalam industri hotel sejak 2007 di Pulau Dewata, sebagai Executive Secretary Managing Director pada Puri Santrian Hotel dan The Village Cucina Italian Restaurant.

Sementara memasuki dunia HR, baru dilakukan saat mendapatkan tawaran bekerja di The Loop Restaurant.

Baca juga:

Lulusan Management Informatika, STMIK Bandung, ini terus berkelana memasuki profesi HR pada berbagai hotel di Bali seperti Hard Rock Bali sebagai Assistant HR Administration.

Kemudian Berry Hotel Bali dengan posisi HR Coordinator & Executive GM Secretary, selanjutnya menjadi HR Manager pada Lorin New Kuta Hotel Bali.

Jiwa di perhotelan

Sebelum terjun di dunia hotel, selepas menamatkan kuliah di Bandung pada 2002, Dina sempat bekerja sebagai Administration & Accounting Officer pada PT Narofel Teknik
Indonesia dari 2003 sampai 2005.

Selanjutnya ia beralih menjadi Ticketing Call Center pada Adam Air  di Bali sejak 2005-2007.

“Saya merasa jiwa saya di hospitality, sehingga ketika saya pertama kali masuk industri ini apa pun saya kerjakan meskipun posisi saya sebagai  Executive Secretary Managing Director,” cerita Dina kepada Simmanews di Swiss Belinn Karawang, Jalan Ahmad Yani Kabupaten Karawang, Selasa, 22 Desember 2020.

Selama menggeluti profesinya, semua departement di perhotelan ia jalani termasuk fotografer dan design set menu restoran

Awalnya, sambung Dina, orangtua menentang pilihannya untuk bekerja di hotel. Pasalnya kedua orangtua Dina memiliki stigma buruk tentang hotel.

Namun Dina selalu meyakinkan orangtuanya bahwa di manapun bekerja dilihat dari kepribadian baik buruknya ada di dalam diri kita sendiri,

“Saya memberikan kepercayaan kepada orangtua saya, tidak berlaku aneh-aneh. Lama-lama orangtua tahu perjuangan saya seperti apa dan merestuinya,” tutur Dina
yang mengaku dulunya termasuk pemalu dan sensitif.

Dina mengungkapkan selama menjalani profesi Human Resources di Bali, banyak kisah yang dapat dipetik hikmahnya bagi perjalanan hidupnya.

“Di sini saya belajar mengenal perilaku orang dan menghargai pilihan hidup orang. Dan ini telah diajarkan ibu saya sejak kecil,” imbuhnya.

Baca juga:

Dari industri perhotelan Bali, Dina melanjutkan karier bidang HR Manager pada Aston Samarinda Hotel di Kalimantan Timur.

Menurut Dina banyak orang yang tidak percaya dengan pilihannya untuk bekerja di Samarinda dengan tantangannya yang tidak mudah.

Seperti berbagai kearifan lokal, yang terkadang membuat warga luar yang datang ke sana gegar budaya.

“Saat saya datang pertama kali ke sana, semua difasilitasi termasuk disambut anggota DPRD Kota Samarinda, mereka  salut ada seorang perempuan yang mau bekerja
ke Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,” bebernya.

“Lokasi dari Balikpapan ke hotel membutuhkan waktu selam 3 jam. Selama satu bulan, saya pun sempat tidak percaya, kalau saya bisa bekerja di sini. Tetapi Tuhan memberikan jalannya.”

Mencari sumber daya manusia (SDM) tidak semudah di Pulau Jawa, karena itu memberikan perhatian bagi SDM sesuai dengan kapasitas dan kualitas SDM sangat penting
dalam ranah Human Resources Management.

“Sementara kearifan lokal dari warga setempat yang unik dan menarik, membuat saya terus belajar memahami mereka. Seperti pepatah dimana bumi dipijak disitu langit
dijungjung,” ucap penyuka fotografi ini.

Baca juga:

Jalani profesi penuh komitmen

Dari Samarinda, pada 2014 Dina mulai bergabung dengan Swiss-Belhotel International, tepatnya di Swiss Belinn Manyar Surabaya sebagai Human Resources Executive Learning & Development.

Sebenarnya menurut Dina, secara posisi, jabatan ini turun tetapi ia ingin belajar hal lain.

“Saya ingin tahu Learning & Development seperti apa? Pernah atasan saya tidak percaya dengan hal ini, tetapi saya punya komitmen dan mengerjakan semuanya dengan
profesional dan penuh tanggung jawab,” urainya.

Dina pun membuktikan semuanya, sehingga banyak hal baru yang ia dapatkan dengan posisi ini untuk pengembangan SDM dari hotel tempatnya bernaung.

Atas kemampuannya tersebut, Dina melanjutkan pekerjaan di Swiss Belhotel Cirebon untuk merevisi sistem yang ada pada hotel tersebut.

Selama 1 tahun dua bulan Dina berada di kota udang, sebelum akhirnya pada 2017 dipidahkan ke Swiss Belinn Karawang sampai saat ini.

Pada hotel yang berada di pusat kota Kabupaten Karawang ini, ia menemukan karakter dan perilaku masyarakat khas kawasan industri yang keras.

“Kawasan Karawang itu unik, ada oknum dari pihak tertentu yang saat pertama kali saya di sini membawa golok (senjata tajam) mengancam dan hal-hal lainnya, tetapi selama kita benar
ya hadapi saja dan berikan penjelasan tanpa emosi,” imbuhnya.

Untuk itu pihaknya terus merangkul SDM sekitar, dengan tetap melalui proses dan seleksi sesuai dengan standar perusahaan.

“Makanya saya sering mengobrol bersama mereka dan hal-hal lainnya yang positif saya dukung. Saya percaya semua SDM di sini, baik warga setempat maupun bukan sudah lebih profesional. Saya tidak merasa lelah selama dapat bermanfaat untuk orang lain,” kata perempuan yang hobi menari ini.(Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here