Manfaat daun kelor: anti radikal bebas, kaya vitamin C dan E

daun kelor
Daun Kelor. (Iman Herdiana/Simmanews)

Radikal bebas adalah zat di dalam tubuh yang jika jumlahnya terlalu banyak bisa menimbulkan kerusakan sel dan memicu berbagai penyakit kronis seperti kanker, diabetes, jantung dan lain-lain.

Membayangkan bentuk radikal bebas kita bisa melihat rumus kimia tentang atom. Atom merupakan satuan terkecil dari setiap benda di alam.Tubuh manusia pun terdiri dari kumpulan atom.

Pada setiap inti atom memiliki kulit berupa elektron yang berpasang-pasangan. Namun tidak semua atom memiliki elektron berpasangan. Sehingga atom dengan elektron tak berpasangan akan bergerak liar dan tak terkendali.

Atom yang bergerak liar tanpa keseimbangan itu disebut radikal bebas.

Radikal bebas bisa bersumber dari hasil metabolisme tubuh maupun dari luar tubuh seperti makanan, sinar UV, polutan dan asap rokok. Jumlah radikal bebas yang terus meningkat dalam tubuh dapat mengakibatkan terjadinya oksidasi pada sel tubuh.

Tubuh sendiri memproduksi antioksidan. Namun jika jumlah antioksidan lebih sedikit dari jumlah radikal bebas, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang jika hal ini sering terjadi akan memicu penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, peradangan dan kardiovaskuler.

Agar radikal bebas bisa dikendalikan, maka diperlukan antioksidan, yaitu senyawa yang dapat memperlambat proses oksidasi dari radikal bebas.

Mekanisme kerja antioksidan ini yaitu dengan cara mendonorkan atom hidrogen atau proton kepada senyawa radikal bebas yang kekurangan elektron. Dengan demikian senyawa radikal tersebut jadi lebih stabil.

Dalam dunia medis sebenarnya ada antioksidan sintesis yang bisa digunakan masyarakat untuk mengatasi kekurangan zat antioksidan. Namun obat antioksidan memiliki efek samping, antara lain, merusak paru-paru dan hati.

Karena itu diperlukan senyawa antioksidan alami yang aman dari efek samping. Latar belakang ini mendorong Wiwit Denny Fitriana, Sri Fatmawati, dan Taslim Ersam melakukan penelitian berjudul “Uji Aktivitas Antioksidan terhadap DPPH dan ABTS dari Fraksi-fraksi Daun Kelor”.

Para peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, dan dari prodi kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember tersebut menyebut daun kelor merupakan salah satu tumbuhan sumber antioksidan.

Daun yang memiliki nama ilmiah Moringa oleifera itu juga sebagai sumber vitamin dan mineral yang dapat berfungsi sebagai antioksidan alami.

“Daun kelor merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa polifenol seperti flavonoid, kuersetin dan kamperol serta sumber vitamin C dan vitamin E. Polifenol merupakan kandungan senyawa yang sebagian besar terdapat dalam tumbuhan yang dapat berperan sebagai antioksidan alami,” terang para peneliti, dalam jurnal ilmiahnya, dikutip Kamis, 4 Desember 2020.

Penelitian mereka pernah disampaikan dalam Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2015 (SNIPS 2015) di Bandung.

Baca juga:

Penelitian dilakukan dengan cara menginvestigasi secara in vitro (penelitian sel) terhadap aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kelor yang telah difraksinasi.

Para peneliti bilang, aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh senyawa-senyawa fenolat yang berada dalam fasa yang diukur. Senyawa fenolat memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang tinggi.

Penelitian dengan cara fraksinasi dan uji bioaktivitas penangkapan radikal bebas ini menyimpulkan bahwa beberapa fraksi daun kelor memiliki potensi untuk difraksinasi lebih lanjut sebagai sumber antioksidan yang potensial.

Jadi, daun kelor memang punya potensi penting untuk kesehatan. Tetapi peneliti mengakui perlu penelitian lanjutan untuk menguji khasiat daun kelor ini. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here