Komunitas literasi Bandung bedah Buku Jejak Jejak Bandung via Zoom

atep kurnia
Penulis buku Jejak Jejak Bandung Atep Kurnia. Foto: Iman Herdiana/Simmanews

Sebelum pandemi, komunitas literasi di Bandung dikenal dengan acara-acara diskusinya yang non-formal. Mereka berkumpul di tempat-tempat tertentu untuk bertukar pikiran sambil ditemani kopi atau makanan ringan.

Namun di masa pandemi Covid-19, acara tatap muka yang hangat digantikan dengan cara virtual melalui Zoom. Hal ini dilakukan demi mengurangi kerumunan yang merupakan bagian dari protokol kesehatan pencegahan virus corona.

Bedah buku Jejak Jejak Bandung secara virtual ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Adi Marsiela dari kalangan jurnalis, Dadan Muksin dari kalangan akademikus (planologi Unisba), dan Dewi Diana Saraswati yang merupakan Koordinator komunitas sejarah Heritage Lover.

Baca juga:

Hadir pula penulis buku Jejak Jejak Bandung, Atep Kurnia. Pertama-tama, narasumber memaparan hasil pembacaannya terhadap Jejak Jejak Bandung. Paparan perdana disampaikan Adi Marsiela.

Jurnalis Suara Pembaruan tersebut mengulas garis besar isi buku Jejak Jejak Bandung yang menurutnya kaya akan referensi dan hal baru tentang Bandung. Banyak temuan Atep Kurnia yang bisa ditelusuri lebih lanjut untuk dijadikan tulisan tentang Bandung.

“Jejak Jejak Bandung ternyata banyak menunjukkan celah untuk jadi sumber informasi (bahan tulisan) ke depannya,” kata Adi.

Salah satu tema menarik buku Jejak Jejak Bandung di antaranya aktivis mahasiswa era Rahman Tolleng. Adi juga memberi catatan untuk buku setebal 184 halaman dengan harapan ada karya lanjutan dari Atep Kurnia sehingga semakin banyak informasi tentang Bandung di masa lalu yang tergali dan terliterasi.

Pemateri berikutnya, Dadan Muksin, juga sepakat bahwa buku Atep Kurnia telah menambah khazanah tentang Bandung. Atep Kurnia dinilai berhasil menyampaikan informasi dengan gaya tulisan yang renyah sama seperti pendahulunya, Haryoto Kunto, yang terkenal karena karya-karyanya yang mengulas Bandung lewat buku Semerbak Bunga di Bandung Raya dan Bandoeng Tempoe Doeloe.

Ia berharap semua orang membaca buku Jejak Jejak Bandung. “Sebab sayang kalau yang baca seumuran kita-kita. Generasi baru juga harus membacanya,” kata Dadan Muksin yang juga anggota profesi perencana (IAP, Ikatan Ahli Perencana, Jawa Barat).

Buku “Jejak Jejak Bandung”, penulis Atep Kurnia. (Iman Herdiana/Simmanews)
Buku “Jejak Jejak Bandung”, penulis Atep Kurnia. (Iman Herdiana/Simmanews)

Narasumber berikutnya, Dewi Diana Saraswati, mengakui buku Jejak Jejak Bandung berisi informasi berharga tentang Bandung. “Buku ini primer banget, senang banget, sumbernya kuat banget,” katanya.

Sebagai contoh, kata Dewi, Atep Kurnia mengulas asal mula Bandung mendapat julukan Parijs van Java. Atep, kata Dewi, menelusuri julukan ini jauh ke abad ke-19. Orang yang membaca buku ini jadi tahu bahwa julukan Parijs van Java memang sudah ada sejak zaman baheula.

Untuk diketahui, sejumlah tema yang dibahas buku ini antara lain Pekan Raya Jaarbeurs, Lomba Pacuan Kuda di Tegallega, Kebun Binatang Bandung, kisah Sukarno-D.K. Ardiwinata-FFA Busse sang raja bioskop-Haji Hassan Mustapa, sejarah komik di Bandung, Kongres Basa Sunda Pertama, Konperensi Asia-Afrika, Toko Buku M. I. Prawira-Winata yang Berjaya, dan lain-lain.

Baca juga:

“Buku ini harta karun bagi saya yang bergerak di bidang wisata,” ujar Dewi yang juga aktif di Himpunan Pramuwisata Indonesia sebagai guide lokal-Bandros.

Selain ketiga narasumber, dalam kesempatan tersebut Atep Kurnia juga turut diskusi. Termasuk menjawab harapan akan adanya jilid selanjutnya dari buku Jejak Jejak Bandung. Deni Rachman sebagai penyunting juga berbagi pengalamannya selama melakukan proses editing buku Jejak Jejak Bandung.

Buku Jejak Jejak Bandung diterbitkan ProPublik dan Oleh-oleh Boekoe Boekoe Bandung (2020). Acara diskusi buku digelar komunitas Oleh-oleh Boekoe Bandoeng dan didukung ProPublik, Studen Rihlah Indonesia, komunitas Ulin Bandung, dan Simmanews.com. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here