Kisah santri penghafal Quran dari Tebuireng yang kini mengajar di pesantren Sayati

Pondok Pesantren Tahfiz Tahfiz Habiburrohman, Jalan Kopo Sayati Gang Nata 2 RT 05 RW 06 Desa Sayati Margahayu Kabupaten Bandung. (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Pondok Pesantren Tahfiz Tahfiz Habiburrohman, Jalan Kopo Sayati Gang Nata 2 RT 05 RW 06 Desa Sayati Margahayu Kabupaten Bandung. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Di usianya yang baru lulus SD pada 2003, Mohamad Nurwahid Fauzi langsung masuk pesantren di Jawa Timur. Pesantrennya tradisional, dekat sawah dan hutan. Di sana ia belajar agama sambil bertani.

Mohamad Nurwahid Fauzi kini berisua 26 tahun, dan ustaz atau pengajar hafiz Al Quran di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfizul Quran Habiburrohman, Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.

“Waktu di pesantren ga boleh malas-malasan. Saya selalu ikut kyai ke sawah, nyangkul. Jadi belajar agama sambil ke sawah juga,” tutur Mohamad Nurwahid Fauzi, saat berbincang dengan Simmanews, pekan lalu.

Di pesantren Jawa Timur tersebut, lanjut cerita Ust Nurwahid, dirinya bertahan sampai setahun, kemudian pindah ke Pesantren Tebuireng untuk mempelajari ilmu tahfiz Quran.

8 tahun ia memperdalam ilmu agama di ponpes yang didirikan Hadhrotussyekh K.H. Hasyim Asy’ari di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu.

Namun masalah pertanian tak bisa lepas. Di ponpes yang didirikan kakeknya Gus Dur atau Abdurrahman Wahid, Presiden keempat RI, itu para santri diwajibkan ikut bertani, menanam sayur dan ternak.

Nurwahid sendiri dipercaya mengelola kolam ikan gurame. Pesantren Tebuireng berdiri di lahan yang luas, punya ladang dan sawah.

Waktu itu, kata Nurwahid, santrinya berjumlah 1.000 orang. Para santri diwajibkan ikut bertani agar pesantren tersebut bisa menghasilkan pangan sendiri.

“Jadi pertanian itu untuk makan santri sendiri,” katanya.

Nurwahid mengaku cuma punya waktu tidur 3 – 4 jam selama menjalani pendidikan di pesantren. “Pesantren mengajarkan kita tidak manja,” katanya.

Mohamad Nurwahid Fauzi, guru hafiz di Ponpes Tahfizul Quran Habiburrohman. (Iman Herdiana/Simmanews)
Mohamad Nurwahid Fauzi, guru hafiz di Ponpes Tahfizul Quran Habiburrohman. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

Lulusan pesantren hafal Al Quran, biasa

Begitu selesai pesantren pun para santri diwajibkan melakukan pengabdian. Maka setelah lulus, aktivitas Nurwahid tak lepas dari kegiatan pesantren.

Sebelum bergabung dengan Ponpes Tahfizul Quran Habiburrohman di Desa Sayati, ia mengabdi dengan mengajar tahfiz di wilayah Cimahi Selatan selama 5 tahun.

Kemudian, pengajaran tahfiz ia lakukan di Leuwigajah, Cimahi Utara, Padalarang. Dari situ, ia mengjar ilmu yang sama di Kebon Kopi dan Dago.

Pengabdian kepada masyarakat ini banyak diikuti warga dari beragam usia, mulai ibu-ibu sampai bapak-bapak, anak-anak dan remaja.

Dari kegiatan pengabdian ia menyimpulkan bahwa masyarakat antusias belajar Al Quran, bahkan mau menghafalkan Al Quran.

“Ada warga yang sudah hafal 10-15 juz. Mereka semangat. Kalau santri lulusan pesantren hafal Al Quran mungkin sudah biasa. Tapi kalau kalau masyarakat umum hafal Al Qular luar biasa,” kata Nurwahid.

Setelah warga binaannya dianggap bisa mandiri dan sudah ada regenerasi, Nurwahid mencari warga binaan lain. Begitu seterusnya sampai ia diajak bergabung ke Ponpes Tahfizul Quran Habiburrohman di Desa Sayati.

Di sela melakukan pengabdian, ia juga kuliah S1 di Unisba megambil jurusan dawah dan jurusan Ilmu Komunikasi di Unpas.

Awal bergabung ke ponpes Habiburrohman, ia mendapat telepon dari temannya yang juga alumni Tebuireng. Sang teman ingin mengumpulkan alumni yang sevisi.

Baca juga:

Rasanya seorang hafiz Quran

Hafiz merupakan seorang yang memahami lafaz dan isi Al Quran. Setelah itu, seorang hafiz dituntut mengamalkan isi Al Quran. Menurut Nurwahid, manusia, mau hafiz atau tidak, tak terlepas dari kesalahan.

Dengan hafal Al Quran, hafiz selalu diingatkan untuk hati-hati. Karena itu menyandang gelar hafiz atau penghafal Al Quran tidak mudah.

Meski demikian ada perbedaan antara belum dan sudah hafal kitab suci umat Islam itu. Perbedaan ini sulit diucapkan dengan kata-kata.

“Perbedaan sebelum dan sesudah hafal Al Quran lebih nikmat saja,” katanya. “Ketika sudah hafal yang dirasakan hanya rasa.”

Al Quran mengajarkan manusia agar tidak sembrono. Sehingga ia tidak kaget lagi ketika dihadapkan di dunia nyata yang ujiannya lebih terjal. “Penghafal Al Quran juga dituntut lebih lebih bijak.” (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here