Kisah raja yang klaim angklung sebagai budayanya

Saung Angklung Udjo, Bandung
Saung Angklung Udjo, Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)

Hari Angklung Internasional 2020 di Saung Angklung Udjo, Bandung, berlangsung meriah. Acara yang digelar dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 itu mengusung tema “Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Pementasan Seni Budaya di Saung Angklung Udjo”.

Angklung’s Day tersebut berlangsung di ruang pertunjukan yang berbentuk semi indoor. Kursi-kursi melingkari pusat pertunjukan yang posisinya di bawah penonton.

Berbagai jenis angklung dan alat musik dari bambu mendominasi pemandangan di atas panggung.

Tuan rumah, Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo, membuka acara dengan cerita angklung yang pernah diklaim sebagai budaya negara lain.

Baca juga:

Kejadiannya 11 tahun lalu ketika pihak Saung Angklung Udjo diundang pada jamuan makan malam di sebuah hotel yang dihadiri seorang raja dari suatu negara. Taufik tidak mau menyebut negara tersebut.

Jadwal main angklung harusnya pas jam makan malam. Namun sang raja belum keluar dari kamarnya. Para pengawal juga tidak berani mengetuk pintu kamar raja.

Sementara para seniman Saung Angklung Udjo terus menunggu. Baru subuh hari, raja keluar dari kamarnya. Maka meski lelah menunggu, grup musik Saung Angklung Udjo pun mulai pertunjukan.

“Jadi kita main subuh, alhamdulillah meski kelelahan, kita berhasil membuat raja terkesan,” tuturnya.

Pihak istana kemudian mengundang Saung Angklung Udjo untuk bermain angklung di negaranya. Di sana, Saung Angklung Udjo bermain angklung seminggu penuh.

“Tiap malam kami main angklung,” tutur Taufik.

Suatu hari, Taufik menemukan selebaran yang isinya mengabarkan pertunjukan musik angklungnya. Yang bikin ia kecewa, brosur tersebut justru tidak menyebut musik angklung sebagai kesenian dari Indonesia.

Brosur itu malah mengklaim bahwa angklung adalah kesenian dari negara asal raja tersebut.

Singkat cerita, Taufik dan rombongan kembali ke Indonesia. Tidak lupa, ia melaporkan kejadian tak mengenakan itu ke kementerian.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan betapa pentingnya memelihara dan melestarikan budaya dalam negeri. Jika tidak, salah satu konsekuensinya ialah diklaimnya budaya dalam negeri oleh negara asing seperti yang terjadi pada angklung.

Pada 16 November 2010, organisasi kebudayaan di bawah PBB, UNESCO, menetapkan angklung sebagai budaya Indonesia. Angklung dinyatakan sebagai heritage internasional yang harus dirawat dan dilestarikan.

Baca juga:

“Kata UNESCO angklung harus terus dipelihara, dilestarikan, jika tidak UNESCO mencabut sertifikat angklung sebagai heritage dunia,” kata Taufik.

Sebagai upaya melestarikan angklung, pihaknya menggelar “Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Pementasan Seni Budaya di Saung Angklung Udjo” tepat Hari Angklung Internasional.

“Hari ini, 16 November angklung mendapat sertifikat dari UNESCO. Acara ini bukan hura-hura, tapi ini kanyaah jangan sampai angklung diambil alih negara lain,” kata Taufik.

Pertunjukan seni angklung pun dimulai. Semua penonton terpukau menyaksikan dan mendengar alat musik bambu yang mampu menghasilkan harmonisasi musik modern. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here