Ketan bakar Lembang dan kisah nenek misterius di balik gerbang

ketan bakar
Ketan bakar Lembang. (Sekar Arum)

Kalau mampir ke Lembang, ada yang kurang rasanya jika tidak menyantap ketan bakar. Ya, jajanan tradisional ini banyak ditemukan di kawasan wisata Bandung utara itu.

Warung-warung ketan bakar di Lembang tersebar di sejumlah lokasi, antara lain daerah Pasar Buah, Jalan Raya Lembang, Jalan Panorama, sekitar Pasar Panorama Lembang, sekitar Grand Hotel Lembang, dan masih banyak lagi.

Ketan bakar yang dijual warung-warung tersebut serupa tapi tak sama. Serupa karena makanan yang dijual adalah nasi ketan yang sudah dicetak persegi panjang, kemudian dibakar di atas bara menyala, lalu dibumbui sambal oncom dan taburan kelapa goreng atawa serundeng.

Tak samanya terletak pada tekstur ketan maupun bumbunya. Ada yang enak, ada juga yang kurang enak. Mungkin tergantung selera juga, ya.

Baca juga:

Akhir pekan lalu, malam hari, kalau tidak salah malam Minggu, saya sempat mampir juga ke salah satu warung ketan bakar. Tukang ketannya bercerita, ketan yang enak terbuat dari ketan. Maksudnya, murni ketan, bukan campur beras.

Tapi yang jelas, ketat bakar cocok menjadi kuliner Lembang yang hawanya dingin, apalagi malam-malam di musim hujan. Kuliner ini nikmat disantap panas-panas. Ketan bakar juga cocok ditemani kopi, teh pahit, susu jahe, kopi susu, dan pokoknya minuman yang hangat-hangat.

Sepenggal ketan biasanya cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Tapi kalau kurang, boleh juga nambah 2, 3 atau lebih pun tidak mengapa asalkan bayar, tentu saja.

Nah, ngomong-ngomong soal makan ketan, si tukang ketan tadi punya cerita unik. Suatu hari, ia kedatangan turis dari luar Jawa yang membawa seorang temannya yang bule. Turis tersebut iseng melakukan lomba makan ketan.

Kata si mamang tukang ketan, salah satu peserta lomba ada yang sanggup makan 30 potong ketan. Dan dia juara. Tapi sesudahnya orang itu tidak sanggup bangun. Untungnya sang rekan yang kalah lomba tidak baperan sehingga mau membopong si juara makan ketan itu ke mobilnya. Pulang.

Malam itu, si mamang tukang ketan untung karena ketan bakarnya laku keras. Satu ketan dijual Rp8.000. Seandainya ada lomba makan ketan lagi, harap si mamang, sambil mengipasi ketan bakar yang saya pesan.

Cerita mamang tukang ketan tak berhenti sampai di situ karena rupanya si mamang doyan banget bercerita. Terlebih malam semakin sepi, hawa dingin dan ngantuk bersatu untuk melumpuhkan orang-orang yang masih mencari nafkah seperti mamang tukang ketan ini.

Sudah puluhan tahun si mamang jualan ketan Lembang. Ia mulai buka siang sampai malam, tidak jarang sampai dini hari, bahkan subuh. Sudah biasa mamang ini menyaksikan kebut-kebutan motor yang dikemudikan anak-anak muda untuk menjajal tikungan Lembang.

Suatu malam, atau dini hari, ada anak-anak muda yang kejar-kejaran dan berhenti tepat di depan kios ketannya. Anak-anak muda itu sepertinya mabuk, karena si mamang mengaku mencium alkohol. Mereka ribut di depan kios tukang ketan tersebut.

Selesai berkelahi, anak-anak muda itu jajan ketan. Untungnya mereka bayar.

Ada pula cerita berbau mistis. Kebetulan tempat jualan ketan si mamang berdekatan dengan sebuah bangunan tua sudah lama tak berpenghuni. Dulunya rumah kosong ini adalah rumah makan.

Baca juga:

Entah bagaimana awal ceritanya, rumah itu terkenal angker bagi penduduk setempat. Menurut si mamang, keterkenalan rumah angker itu sempat mendatangkan acara uji nyali yang digelar televisi swasta. Peserta uji nyalinya banyak yang tidak lulus.

Rumah kosong itu juga kerap dipakai orang untuk mencari kode buntut. Malah konon ada orang yang tembus, setelah berhasil melewati malam yang menyeramkan.

Menurut si mamang, penghuni rumah kosong adalah none Belanda. Ada juga nenek berwajah serem dengan rambut seperti ijuk. Nenek misterius ini bisa berdiri di balik gerbang rumah kosong.

Cerita nenek misterius itu selesai bersamaan dengan habisnya ketan bakar di hadapan saya. Saya pun pamit.

Sempat terlihat dari spion mobil si mamang tukang ketan menghampiri gerbang rumah kosong itu. Entah mau apa. (Sekar Arum)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here