Kata dr Panji, ini perbedaan vaksin, antibodi dan obat Covid-19

perbedaan vaksin
Ilustrasi (Raffli Ramadhan/Simmanews)

Vaksinasi Covid-19 yang mulai berlangsung saat ini diharapkan tidak bikin lengah hingga mengendurkan protokol kesehatan (prokes) 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Perlu diingat, vaksin bukanlah obat. Demikian pula bagi para penyintas, meski sudah memiliki antibodi, namun dari beberapa kasus, masih ada penyintas yang kembali positif Covid-19.

Sehingga memiliki antibodi atau sudah divaksin, selama kekebalan kelompok atau herd immunity belum tercipta, prokes 3M wajib dilaksanakan.

Koordinator Sub Divisi Imunisasi Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 Jabar dr. Panji Fortuna Hadisoemarto menjelaskan perbedaan vaksin, antibodi, dan obat.

Baca juga:

Dr Panji bilang, antibodi adalah suatu protein yang dibentuk oleh sistem imun ketika menghadapi paparan antigen/patogen, bisa berupa virus, bakteri, jamur, dan lainnya. Termasuk terhadap virus Covid-19.

Antibodi adalah senyawa yang dihasilkan oleh sel-sel imun, yaitu oleh sel limfosit B yang bekerja melawan antigen.

Dalam hal Covid-19, yang bisa disebut sebagai produk antibodi adalah plasma convalescent yang berasal dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh.

Kini, para dokter telah berusaha memanfaatkan antibodi penyintas untuk mengobati pasien Covid-19 dengan gejala berat.

Sementara obat bisa berasal dari senyawa kimia atau diisolasi dari herbal, atau sumber lain. Obat memiliki target tertentu pada tubuh manusia.

Namun sebelum dicobakan ke manusia, calon obat harus menjalani dulu serangkaian uji pre-klinik pada hewan atau pada sel, selain itu juga harus diuji keamanannya.

Sedangkan vaksin adalah suatu senyawa berupa antigen yang lemah yang bekerja memicu produksi antibodi pada tubuh orang yang divaksin.

Untuk vaksin Covid-19, maka bisa dibuat antigen berupa keseluruhan virus yang dilemahkan atau bagian dari virus yang kemudian ditempelkan pada virus pembawa lain, atau berupa mRNA virus SARS-CoV-2.

Orang yang menerima vaksin ini akan menghasilkan antibodi terhadap virus Covid-19, sehingga menjadi lebih kebal dan tidak mudah terinfeksi.

Panji bilang, kekebalan tubuh baru dapat terjadi jika seseorang mendapatkan vaksin dua kali dengan jarak dua minggu.

“Setelah vaksin kedua diberikan pun, wajib menjaga kondisi badan dan prokes minimal dua minggu, bukan bebas bepergian. Memerlukan waktu untuk menciptakan antibodi,” ujar dr Panji, dikutip dari siaran persnya, Senin (18/1).

Baja juga:

Di sisi lain, belum semua masyarakat akan mendapatkan vaksinasi dalam waktu cepat. Menurutnya kekebalan kelompok baru dapat terjadi jika 70 persen populasi mendapat vaksin.

Panji berharap masyarakat terus mencari informasi terkait rencana vaksinasi pada kanal informasi resmi pemerintah agar tidak terpapar hoaks.

Panji mengakui, mis-informasi terkait vaksinasi saat ini begitu marak sehingga membuat masyarakat menjadi resah.

Ia mengajak semua pihak untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak salah persepsi terharap vaksin maupun pengobatan Covid-19. (Iman Herdiana/Simmanews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here