Kangen sama kolak? Kolakulaku Margahayu punya 13 variasi dessert istimewa ini

kolak Margahayu
Kolak Kolakulaku Margahayu (Dok Kolakulaku )

Hidangan ini identik dengan menu buka puasa, rasanya yang manis dan lembut menjadikan kolak sebagai ikon kuliner bulan Ramadan. Padahal kuliner tradisional Indonesia ini tetap nikmat disantap di luar bulan Ramadan.

Nah, di Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung tepatnya di Desa Margahayu Tengah, Taman Kopo Indah I Blok i Nomor 115, terdapat home industri yang memproduksi sampai 13 jenis olahan kolak dengan beragam variasi yaitu Kolakulaku milik Wina Setiawati.

Mulai dari bubur sumsum, kolak candil, kolak pisang, bubur pacar cina atau mutiara, ketan hitam, kacang hijau, doko-doko, bongko, singkong thailand, bubur hanjeli, kolang-kaling, ubi ungu, hingga sagu ambon.

Cita rasa kolak yang ditawarkan usaha rumahan yang dirintis sejak Oktober 2016 ini, rasa manis dan gurihnya pas. Saat pertama kali menempel di lidah, tidak bosan untuk terus menyantapnya.

Untuk di luar Ramadan maupun puasa Senin Kamis

Wina menceritakan idenya untuk membuat kuliner khas takjil ini, bermula dari kesukaannya menikmati kolak candil untuk buka puasa, sayangnya saat dia mencari di kawasan rumahnya tidak ada yang menjual.

Kolak Kolakulaku Margahayu (Dok Kolakulaku )
Kolak Kolakulaku Margahayu (Dok Kolakulaku )

Akhirnya Wina membuat kolak untuk dijual, ternyata banyak orang yang menggemarinya termasuk diluar bulan Ramadan.

Wina bilang, sengaja memproduksi kolak demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan kolak untuk takjil bulan Ramadan maupun puasa sunah Senin dan Kamis.

“Adapula bubur sumsum untuk makanan bayi dan beberapa pesanan untuk manula, bahkan bubur sumsum menjadi menu andalan saat menjenguk orang yang sedang sakit,” terang Wina kepada Simmanews, baru-baru ini.

Kolakulaku menggunakan bahan baku yang berkualitas dan mudah mendapatkannya, seperti ubi, pisang, singkong, beras ketan hitam, kacang hijau, hanjeli, kolang-kaling, beras, sagu ambon, gula jawa, gula putih, kelapa, dan lain-lain yang semuanya alami.

Wina dibantu tiga karyawan dalam mengolah kudapan tradisional ini. Mereka bekerja sejak pukul 04.00 sampai 06.00 WIB. Wina memasarkannya secara online dan offline.

Pembeli bisa memesan kolak di nomor WhatsApp 0813-2175-3124, akun Instagram @kolakcampurkolaku, atau melalui GrabFood kolak campur kolaku dan GoFood kolak campur kolaku.

Produk Kolakulaku juga dipasarkan offline di samping Indomaret Taman Kopo Indah III, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung dan setiap Jumat mengikuti Culinary Food di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Bandung.

Selain itu, Wina juga mengirim produknya ke beberapa toko kue basah seperti Vitasari Bakery dan Mayasari Bakery.

“Kami pun melayani reseller di Bandung Timur yaitu Mamaku frozen food dan di Kota Cimahi ada Minibentobox. Pada 2018 dan 2019 bekerja sama dengan pengurus Masjid Agung Trans Studio Bandung menyediakan takjil 5.000 sampai 7.000 pax selama Ramadhan,” ucap Wina.

Riset agar kolak tahan sampai 2 tahun

Dua minggu sekali pada Jumat berkah, Kolakulaku membagikan takjil ke masjid dan panti asuhan.

Kolak Kolakulaku Margahayu (Dok Kolakulaku )
Kolak Kolakulaku Margahayu (Dok Kolakulaku )

Kolak buatan Wina dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau di kantong yaitu antara Rp6.000 sampai Rp15.000, kolak ini dapat bertahan selama 18 jam di suhu ruangan.

“Umur produk yang tidak tahan lama, sehingga menghambat dalam perluasan pemasaran produk,” imbuh Wina.

Sekarang produk Kolakulaku tengah dilakukan prariset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta, untuk proses pengalengan kolak. Sehingga produk ini bisa awet hingga dua tahun.

“Nantinya pemasaran bisa menjangkau seluruh Indonesia bahkan luar negeri,” tutup Wina. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here