Jejak Freemason di Bandung, bekas loji kini jadi masjid

freemason bandung
Masjid Agung Al Ukhuwah di Jalan Wastukancana. (Humas.Bandung.go.id )

Freemason punya riwayat panjang di Bandung. Organisasi yang sering dituding misterius dan dikaitkan dengan gerakan iluminasi dan Kesatria Templar ini pernah mendirikan beberapa loji di Bandung.

Salah satu loji terbesar pernah berdiri di lahan yang kini menjadi Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana. Namanya Loge Sint Jan, seperti dikutip dari keterangan resmi Humas Bandung, Selasa 8 September 2020.

Loji merupakan sebutan untuk rumah ibadah atau tempat kumpul kaum Freemason. Sejumlah sumber menyebut, Loge Sint Jan merupakan loji ke-13 di Hindia Belanda. Namun warga setempat mempelesetkan loji Sint Jan ini sebagai gedung “setan”, entah karena susah pelafalan atau ada alasan lain.

Freemason dan Sukarno

Di luar sebutan miring tersebut, para penganut freemason justru banyak bergerak di bidang sosial dan literasi. Gerakan ini mendirikan perpustakaan “De Openbare bibliotheek van Bandoeng”, perpustakaan yang turut berjasa dalam memasok referensi bagi Sukarno di masa penahanan Belanda di penjara Banceuy.

Lewat pasokan buku koleksi milik kaum Freemason, Sukarno yang dikenal kutu buku, kelak menjadi Presiden pertama RI, bisa menyusun pledoi untuk melawan pengadilan Belanda.⠀

Pada 29 Desember 1929, pemerintah Belanda menangkap Sukarno di Yogyakarta dengan tuduhan makar karena mendirikan PNI. Ia kemudian ditahan ke penjara Banceuy untuk menjalani sidang pengadilan Belanda di gedung Landraad (kini Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan).

Di persidangan, Sukarno balik menggugat pemerintah kolonial Belanda melalui pledio masyhur berjudul “Indonesia Mengguggat”. Pengadilan Belanda tetap menyatakan Sukarno bersalah dan pada 1930 ia dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung.

Freemason Bandung perangi rentenir dan buta huruf

Gerakan loji Sint Jan juga aktif memerangi rentenir yang mencekik masyarakat dengan memberikan kredit ringan. Di bidang pendidikan, mereka mendirikan Bandoengsche Schoolvereniging yang berhasil mengadakan 3 sekolah dasar, 3 sekolah menengah, dan sebuah Taman Kanak-kanak. Freemason Bandung juga aktif mendukung lembaga disabilitas atau tunanetra.

Loge Sint Jan mengalami pembongkaran pada 1960. Setelah dibongkar, di lahan bekas bangunan loji dibangun gedung baru, Graha Pancasila yang tak berumur panjang. Bangunan ini dibongkar dan lahannya dipakai untuk mendirikan Masjid Al-Ukhuwah. Masjid besar ini mulai digunakan pada tahun 1998.

Masjid ini kerap dipakai salat berjamaah terutama oleh ASN di lingkungan Pemkot Bandung, karena posisinya berseberangan dengan Balai Kota Bandung.

Sejumlah literatur menyebut Freemason di Bandung sudah ada sejak 1930-an. Tak heran jika Sukarno muda mendapat pasokan buku dari perpustakaan yang didirikan para aktivis Freemason.

Dituding gerakan iluminasi

Menurut penulis buku “Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Freemasonry di Bandung”, M Rizky Wiryawan, di masa lalu masyarakat Bandung sudah biasa bertemu atau berinteraksi dengan tokoh atau anggota Freemasonry.

Hanya saja dalam perkembangannya, sejarah Freemasonry sering dicampuradukkan dengan mitos, tudingan, prasangka, konspirasi, Kesatria Templar, iluminasi yang menurut Rizky tudingan tersebut tidak didukung fakta atau dokumen sejarah.

Gerakan Freemason sempat kembali ramai ketika novel Da Vinci Code (1998) karya Dan Brown meledak. Novel ini kemudian difilmkan—juga meledak dan kontroversi—dengan bintang Tom Hanks. Dan Brown, dalam kisah fiksinya itu, menuturkan bagaimana konspirasi yang melibatkan anggota iluminasi. Namun bagaimanapun, kisah Brown dasarnya fiksi.

Rizky Wiryawan menyebut, Freemason merupakan salah satu gerakan okultisme. Okultisme diambil dari bahasa Latin, occultus yang artinya tersembunyi atau rahasia. Jumlah anggota kelompok okultisme di dunia ini sangat banyak, termasuk yang berhubungan dengan agama tertentu.

Kelompok okultisme terkenal yang pernah masuk ke Bandung pada zaman kolonial adalah Freemasonry dan Teosofi. Freemasonry masuk ke Nusantara bersamaan dengan masuknya VOC. Gerakan ini dasarnya humanisme dan filsafat.

Rizky menulis bukunya dalam pendekatan sejarah, sehingga narasi-narasi konspirasi global, iluminasi, dan tudingan-tudingan miring lainnya tidak bisa ditelusuri karena tidak ada bukti sejarahnya. Dari hasil risetnya ia menyimpulkan selama ini Freemasonry tidak lepas dengan sejarah Bandung. Ia menyebut anggota Freemasonry di Bandung mencapai 200 orang.

Peninggalan Freemason di Bandung tidak hanya lahan yang kini menjadi tempat berdirinya Masjid Al Ukhuwah. Ada beberapa bangunan yang tersisa dan masih berdiri, antara lain, bekas loji di Jalan Banda, Kota Bandung. (Iman Herdiana/Yatni Setianingsih/ Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Baju renang muslim, solusi sehat tanpa takut kelihatan aurat 

Mengenal zona-zona kewaspadaan Covid-19 di Jawa Barat 

Banyak relawan vaksin Covid gagal karena darah tinggi 

Bekas gudang kopi zaman Belanda kini jadi Balai Kota Bandung 

Penyakit diabetes menyerang ratusan juta orang di dunia, bagaimana mengatasinya? 

Ketika Belanda, Jepang dan Indonesia “rebutan” Rumah Sakit Ranca Badak 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here