Inovasi alat tes Covid-19 buatan Unpad, tidak perlu kulkas

swab covid
Alat swab Covid buatan Unpad. (Foto: Dok Unpad )

Ilmuwan Universitas Padjadjaran (Unpad) menciptakan produk Viral Transport Medium (VTM) untuk menyimpan sampel pemeriksaan swab Covid-19.

VTM buatan Unpad ini berbasis iceless transport system atau tidak membutuhkan penyimpanan di kotak pendingin sebelum menuju ke laboratorium.

Aneka produk VTM iceless transport system tersebut antara lain VitPAD, i-blue, dan C-transport.

Tiga produk tersebut dikembangkan oleh tim peneliti dari Laboratorium Covid Rumah Sakit Pendidikan Unpad, yaitu Dr. Hesti Lina Wiraswati, M.Si., Lia Faridah, dr., M.Si., Dr.rer.nat. Savira Ekawardhani, M.Si., dan Dr. Shabarni Gaffar, M.Si.

Baca juga:

Aneka produk VTM tersebut seluruhnya mampu tahan di suhu ruang setelah dimasukkan sampel.

Selama ini, produk VTM yang ada membutuhkan ruang penyimpanan dengan suhu 2-8 derajat Celcius, baik sebelum dimasukkan sampel atau setelah dimasukkan sampel.

Sedangkan VitPAD, i-blue, dan C-transport sama-sama tanpa menggunakan es untuk penyimpanannya.

Ketiga produk tersebut memiliki perbedaan terutama dari segi daya tahan. VitPAD mampu bertahan di suhu ruang selama 14 hari setelah ditambah sampel.

Sementara i-blue dan C-transport mampu bertahan selama 7 hari di suhu ruang setelah ditambah sampel.

Dr. Hesti Lina Wiraswati, M.Si menjelaskan, tiga produk tersebut berbasis buffer. VTM buffer akan memungkinkan disimpan di suhu kamar, sehingga tidak perlu menggunakan fasilitas khusus untuk menyimpannya.

Produk tersebut berbeda dengan jenis medium yang selama ini banyak digunakan di pasaran. VTM basis medium harus memerlukan penyimpanan khusus dengan suhu 2 – 8 derajat Celcius.

Dengan demikian, VitPAD, i-blue, dan C-transport sangat efektif bila digunakan di lokasi yang tidak memiliki fasilitas penyimpanan khusus VTM ataupun lokasi yang jauh dari fasilitas laboratorium uji.

“Ada beberapa lokasi yang susah cari es dan tidak ada cool box. Kalau pakai punya Unpad tidak perlu itu. Sampelnya tetap aman, serta aman juga ke lingkungan,” kata Lia.

Selain tahan suhu ruang, tiga produk ini juga mengandung formula berupa denaturan atau zat untuk menginaktivasi sampel virus.

Baca juga:

Soal harga bersaing

Ketika sampel virus dimasukkan, zat akan menginaktiviasi virus sehingga sebagian virus sudah tinggal RNA-nya saja, sehingga produk ini tidak akan infeksius sekalipun disimpan di kotak penyimpanan biasa.

“Risikonya rendah,” tambah Shabarni.

Hesti mengatakan, dari hasil pengujian yang dilakukan tim, VitPAD, i-blue, dan C-transport masih mampu bertahan dalam kondisi suhu yang relatif panas, seperti 40 – 50 derajat Celsius.

“Kita cek di suhu tersebut di mana notabene suhu yang paling tinggi di Indonesia, kemudian kita uji kualitas sampelnya, ternyata virusnya masih bisa (diuji),” kata Hesti.

Artinya, produk ini baik digunakan untuk transportasi sampel di wilayah dengan suhu panas, hingga dapat disimpan tanpa menggunakan kotak pendingin di dalam mobil.

Mengenai harga, Dr.rer.nat. Savira Ekawardhani, M.Si., mengatakan, VitPAD, i-blue, dan C-transport memiliki harga relatif bersaing dengan produk serupa di pasaran.

Hal itu disebabkan formula produk ini menggunakan material yang murah tetapi memiliki kualitas yang setara dengan produk VTM pada umumnya.

“Karena ini hasil penelitiannya kami, maka kami cari material yang bersaing,” ujar Savira. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here