Ini penampakan obat Covid produksi keroyokan di dalam negeri

obat covid
Obat Covid-19 yang diproduksi Holding BUMN Farmasi. (Dok Holding BUMN Farmasi)

Indonesia memiliki Holding BUMN Farmasi yang terdiri dari PT Bio Farma, PT Kimia Farma dan PT Indofarma yang bertugas memproduksi vaksin dan obat Covid-19, kata Direktur Utama Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir.

Bergabungnya entitas dalam negeri bidang farmasi dalam suatu naungan holding diharapkan dapat membantu pemerintah dalam percepatan penanggulangan pandemi virus corona dengan cara produksi obat Covid-19 di Indonesia.

“Baik dari sisi pencegahan melalui penyediaan vaksin, penanganan melalui pengobatan dan pemberian multivitamin, maupun melalui penyediaan alat kesehatan,” kata Honesti Basyir, dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (6/20).

Honesti Basyir yang juga menjabat Direktur Utama Bio Farma bilang, Bio Farma merupakan induk Holding BUMN Farmasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir di sela-sela rapat kordinasi Holding BUMN Farmasi di Jakarta, 4 Oktober 2020.

Favipiravir untuk terapi Covid–19

Obat Covid-19 yang diproduksi Holding BUMN Farmasi. (Dok Holding BUMN Farmasi)
Obat Covid-19 yang diproduksi Holding BUMN Farmasi. (Dok Holding BUMN Farmasi)

Anggota BUMN Holding Farmasi, PT Kimia Farma Tbk, saat ini mampu memproduksi obat Covid-19, yaitu Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19.

Favipiravir mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi pemerintah.

Direktur Utama PT Kimia Farma, Tbk, Verdi Budidarmo, bilang jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma, dan merupakan produk pertama di Indonesia yang dikembangkan sendiri oleh BUMN.

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Selain itu, pihaknya juga memproduksi beberapa multivitamin penambah daya tahan tubuh seperti Vitamin C (tablet dan injeksi), Becefort, Fituno dan Geriavita sebagai tambahan produk untuk menjaga daya tahan tubuh.

Selain obat Covid dan multivitamin, PT Kimia Farma Tbk melalui jaringan ritelnya juga mendistribusikan alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer serta melakukan layanan pemeriksaan yaitu Rapid Test yang hasil produksi PT Kimia Farma Tbk sendiri dan PCR Test di seluruh jaringan layanan kesehatan PT Kimia Farma Tbk yang tersebar di seluruh Indonesia.

Obat anti-Corona Remdesivir

Anggota BUMN Holding Farmasi, PT Kimia Farma Tbk, saat ini mampu memproduksi obat untuk penanganan Covid-19, yaitu Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19.   Favipiravir mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi pemerintah.   Direktur Utama PT Kimia Farma, Tbk, Verdi Budidarmo, bilang jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma, dan merupakan produk pertama di Indonesia yang dikembangkan sendiri oleh BUMN.  Selain itu, pihaknya juga memproduksi beberapa multivitamin penambah daya tahan tubuh seperti Vitamin C (tablet dan injeksi), Becefort, Fituno dan Geriavita sebagai tambahan produk untuk menjaga daya tahan tubuh.  Selain obat-obatan dan multivitamin, PT Kimia Farma Tbk melalui jaringan ritelnya juga mendistribusikan alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer serta melakukan layanan pemeriksaan yaitu Rapid Test yang hasil produksi PT Kimia Farma Tbk sendiri dan PCR Test di seluruh jaringan layanan kesehatan PT Kimia Farma Tbk yang tersebar di seluruh Indonesia.   Obat anti-Corona Remdesivir

PT Indofarma siap memasarkan obat antiCorona Remdesivir dengan nama dagang Desrem™. Obat ini diproduksi Mylan Laboratories Limited, atas lisensi dari Gilead Sciences Inc, Foster City dan United States of America.

Produk obat Covid-19 lainnya adalah Desrem™ Remdesivir Inj 100 mg, yang merupakan produk antiviral hasil produksi Mylan Laboratories Ltd, yang akan dipasarkan PT Indofarma dalam waktu dekat.

Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto membeberkan, pihaknya akan memasarkan Desrem™ Remdesivir Inj 100mg, yang telah mendapatkan persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) di Indonesia.

Juga telah disetujui oleh BPOM melalui penerbitan Nomor Izin Edar yang sudah diterbitkan pada tanggal 30 September 2020.

“Desrem™ Remdesivir Inj 100mg akan mulai dipasarkan pekan depan, merupakan obat yang digunakan untuk penggunaan pada pasien rawat inap Covid-19 dalam kondisi sedang-berat. Kemudian untuk ketersediaan stock untuk bulan ini, sudah ada sebanyak +/- 400.000 vial dengan harga yang tentunya terjangkau oleh masyarakat,” ungkap Arief Pramuhanto.

PT Indofarma beserta seluruh grup usahanya mendukung upaya pemerintah dalam hal penekanan penyebaran Covid-19 di tanah air melalui berbagai jenis produk lainnya, antara lain, Oseltamivir 75gr Caps yang merupakan antiviral unggulan yang saat ini telah menjadi rujukan sebagai protokol pengobatan Covid-19 di berbagai rumah sakit.

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Oseltamivir 75 gr Caps merupakan produk yang telah memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri senilai 40.06%, telah diproduksi sendiri oleh PT Indofarma, Tbk, dengan kapasitas produksi sebesar 4.9 juta Capsul per-bulan. Diharapkan dapat mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Selain Favipivar, PT Kimia Farma Tbk, dan anak usahanya, PT Phapros, Tbk, telah memproduksi juga beberapa obat untuk penanganan Covid-19 antara lain Chloroquine, Hydroxychloroquine, Azithromycin, Favipiravir, Dexamethasone dan Methylprednisolon.

Arief Pramuhanto menambahkan, selain obat-obatan, PT Indofarma juga telah memproduksi alat kesehatan seperti Medical Face Mask 3Play (Inamask), Hand Sanitizer (Clind), Rapid Test (Smart Diagnostic Covid19) hingga Mobile Diagnostic Real Time PCR, Produk Isolation Transport hingga Virus Transport Media (VTM).

Sementara tugas Bio Farma sendiri melakukan pengadaan vaksin Covid-19 yang merupakan hasil kolaborasi dengan Sinovac, di mana saat ini masih dalam tahap uji klinis di Bandung.

Sampai akhir September 2020, terdapat 1319 relawan sudah mendapatkan suntikan pertama, 656 relawan sudah mendapatkan suntikan kedua, dan 244 relawan dalam tahap pengambilan darah pasca-suntikan kedua.

Hingga saat ini belum ada dilaporkan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius akibat vaksin atau vaksinasi. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here