Ini faktor penyebab angka kematian ibu dan bayi di Bandung masih tinggi

Ilustrasi ibu dan bayi (Grafis : Muhammad Pasha/ Simmanews)
Ilustrasi ibu dan bayi (Grafis : Muhammad Pasha/ Simmanews)

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Ahyani Raksanagara bilang angka kematian ibu dan bayi di Kota Bandung masih terhitung tinggi. Untuk itu perlu berbagai upaya, guna menanggulangi secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak.

Dari data Dinkes Kota Bandung pada 2020 jumlah kematian bayi mencapai 82 kasus, sementara angka kematian ibu mencapai 28 kasus.

Karakteristik kematian bayi tersebut, dari 82 orang sebanyak 38 orang, terjadi pada usia 0-6 hari sebanyak. Sementara 14 dari 28 ibu meninggal terjadi pada masa nifas, yakni 42,9 persen akibat pendarahan.

Ahyani menyimpulkan beberapa faktor penyebab kematian ibu dan bayi tersebut. Mulai dari usia ibu terlalu muda, tidak ikut program Keluarga Berencana (KB), masalah gizi, dan faktor sosial serta ekonomi.

Untuk faktor terakhir kata Ahyani meliputi pekerjaan ayah, pendidikan ibu dan ayah, serta masalah pembiayaan.

Baca juga:

“Apa yang bisa dicegah jauh-jauh hari sebelum kelahiran bayi? Salah satunya dengan mengikuti KB dan KBPP (Keluarga Berencana Pasca Persalinan),” imbuhnya dikutip dari keterangan resmi, Kamis 28 Januari 2021.

Melalui KB, Ahyani menerangkan sebagai upaya mengatur kelahiran anak, jarak kelahiran, dan usia ideal melahirkan. Sementara untuk KBPP untuk mengatur jarak kelahiran atau kehamilan dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.

“Penyelesaian masalah kematian ibu dan anak tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor aja, tapi harus diselesaikan oleh berbagai sektor sesuai fungsinya,” ungkapnya.

Program GenRe

Menurut Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung, Nina Rachman bilang selain itu untuk menekan angka kematian ibu dan bayi harus pula melaksanakan Program GenRe (Generasi Berencana).

Program ini telah dicanangkan, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 2013 lalu. Program GenRe (Generasi Berencana), bertujuan untuk menyiapkan kehidupan berkeluarga sejak remaja, melalui pemahaman tentang Pendewasaan Usia Perkawinan.

Baca juga:

“Bisa dilihat dari siklus usia subur wanita. Untuk itu, kita membuat kader-kader remaja untuk mengingatkan temannya bagaimana mereka menjadi remaja berencana, yang kita sebut sebagai GenRe,” terangnya.

Sehingga generasi muda mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

“Yaitu anak-anak muda dimatangkan, bagaimana mereka merencanakan. Bagaimana para remaja mengajak teman sebaya untuk menunda perkawinan dini. Termasuk bagaimana mereka menyiapkan diri untuk menghadapi usia pernikahan,” pungkasnya. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here