Ilmuwan Unpad jelaskan kehebohan mutasi virus Corona, apaan tuh?

covid pemkot bandung
Ilustrasi Covid-19. (Gambar oleh PIRO4D dari Pixabay)

Sejumlah ilmuwan melaporkan kasus mutasi baru dari virus Corona. Mutasi ini disinyalir lebih berbahaya dari virus sebelumnya, SARS CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit Covid-19.

Dr. Mia Miranti, M.P., ahli mikrobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) bilang, virus Corona termasuk ke dalam kelompok virus RNA.

Dalam istilah ilmiah, RNA adalah ribonukleat acid yang merupakan salah satu materi genetik yang terdiri dari nukleotida atau salah satu jenis dari asam nukleat yang menjadi ciri bahwa virus dikategorikan sebagai makhluk hidup.

Sejumlah penelitian yang didokumentasikan dalam jurnal ilmiah menyebut bahwa kelompok virus RNA mudah mengalami mutasi. Ketika virus Corona menginfeksi satu tubuh inang, maka RNA-nya akan melakukan replikasi atau berkembang biak.

Baca juga:

Menurut Mia, replikasi virus tidak ada yang tidak menyebabkan penyakit pada inangnya, karena dia akan mengambil alih sistem kerja sel inang untuk proses reproduksi dia.

Mengenai Covid-19, Mia menyebut bahwa virus Corona sebenarnya sudah sering mengalami mutasi.

Virus tersebut melakukan mutasi untuk menyesuaikan diri dengan sel inangnya. Sejak dari Wuhan, Tiongkok, virus Corona sudah mengalami mutasi sehingga dia mampu bertahan pada rentang suhu 5 – 10 derajat Celcius.

Namun di kala virus Corona menyebar ke Iran dan kawasan Timur Tengah, Mia memperkirakan bahwa virus telah mengalami mutasi kembali yang memungkinkan dia tahan terhadap suhu panas.

mutasi
Dr. Mia Miranti, M.P., ahli mikrobiologi Unpad. (Dok Unpad)

Bagaimana dengan virus Corona di Indonesia? Mia menjelaskan virus Corona di Indonesia juga sudah mengalami mutasi.

Ia mengungkap laporan dari Eijkman Institute beberapa waktu lalu menemukan bahwa virus Corona di Indonesia memiliki strain yang berbeda dengan virus di Wuhan.

“Hanya saja proses mutasinya tidak seperti yang sekarang lagi heboh di Inggris,” tutur Mia, dikutip dari siaran pers Unpad, Senin, 28 Desember 2020.

Baca juga:

Mia yang mengajar di Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam ini menyebut ada kemungkinan proses mutasi di Inggris dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga kemungkinan infeksinya lebih tinggi.

Dengan kata lain, mutasi suatu virus bisa jauh lebih berbahaya jika dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Sebab mutasi setiap virus dipengaruhi oleh faktor inangnya, Mia berpendapat bahwa pengembangan vaksin mestinya disesuaikan dengan hasil mutasi virusnya.

“Vaksin Covid-19 di Indonesia seharusnya disesuaikan dengan karakter virus yang ada di Indonesia,” pungkas Mia. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here