Fenomena “komedi gelap” di medsos disebut biasa di alam demokrasi

komedi gelap
Ilustras. (Gambar oleh ParallelVision dari Pixabay)

Media sosial (medsos) terus memunculkan fenomena. Salah satunya yang lagi hangat ialah “dark jokes” atau komedi gelap, black humor, dark humor, satire, dan istilah sejenis lainnya.

Fenomena komedi gelap terutama mencuat di Twitter. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dark jokes dikenal dengan istilah satire.

Istilah ini punya dua arti, yakni (1) gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang; dan 2 sindiran atau ejekan.

Namun, gaya humor ini menuai pro-kontra, terlebih saat penggunaannya dilakukan di tengah situasi yang tidak tepat.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran S. Kunto Adi Wibowo, M.Comm., PhD, mengatakan, dark jokes menjadi suatu fenomena generasional.

Baca juga:

Artinya, hanya kelompok usia tertentu yang memahami candaan dalam dark jokes.

“Mungkin ini humornya zaman anak-anak muda. Saya gak bisa ketawa kalau ada dark jokes. Demikian halnya orang tua saya tidak bisa ketawa kalau ada satire jokes di zaman saya,” ungkap Kunto.

Jika dikaitkan dengan teori humor dalam komunikasi, Kunto menjelaskan, humor bisa terjadi tatkala ada gap antara situasi yang sebenarnya dan yang dijadikan candaan.

Gap ini, bisa bersifat reflektif, bisa pula merendahkan. “Gap itu yang membuat kita ketawa,” kata Kunto.

Sebagai seorang akademisi, Kunto belum bisa menilai apakah dark jokes merupakan candaan yang layak atau tidak layak. Ini disebabkan, harus ada kajian terlebih dahulu terkait dark jokes lebih dalam.

Baca juga:

“Kita harus pending adjust, sebenarnya ada apa di balik dark jokes. Apakah semata merendahkan orang supaya kita merasa lebih baik atau nyaman, ataukah ada semacam refleksi terkait dengan society,” jelasnya.

Karena itu, ia berpendapat bahwa dark jokes bisa menjadi kajian baru bagi para ilmuwan. Apalagi, saat ini, referensi ilmiah mengenai humor ini masih belum memadai, seperti bagaimana motif yang digunakan pada humor ini, refleksi apa yang ingin disampaikan, hingga bagaimana tanda-tanda atau semiotik yang dimainkan di dark jokes.

Terlepas dari pro-kontra dark jokes, Kunto mengatakan bahwa media sosial pada prinsipnya bersifat demokratis. Demokrasi ini tidak diimbangi dengan aturan yang membatasi.

Dehingga orang bebas mengutarakan berbagai pendapat di media sosial. “Bahkan mau tweet war kayak apapun, ya silakan,” kata Kunto. (Iman Herdiana/Simmanews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here