Di balik mitos jurig cai dan bencana banjir: Festival Air Cimahi

festival
Festival Air Cimahi 2020. (Dok Hermana HMT)

Semua masyarakat di dunia memiliki mahluk mitologi sendiri-sendiri. Mahluk-mahluk tersebut diyakini hidup di darat dan laut, termasuk di tempat-tempat seperti sumber air atau sungai.

Makhluk tersebut digambarkan seperti manusia, binatang atau paduan setengan badan manusia dan binatang. Wujudnya mulai yang menyeramkan sampai berparas perkasa atau jelita.

Di masyarakat Kota Cimahi yang hidup berdekatan dengan aliran sungai, dikenal istilah jurig cai (hantu air), yaitu mahluk gaib yang hidup di air dan dianggap berwatak jahat.

Mahluk-makhluk tersebut konon suka menarik orang yang sedang mandi atau berenang dan mengakibatkan orang itu meninggal dunia.

Hermana HMT, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) mengatakan, jurig cai digambarkan menyeramkan dan menyerupai kepala binatang seperti buaya, ular, kerbau atau berwujud manusia buruk rupa.

Ada pula yang menggambarkan menyerupai gulungan samak (tikar) dan orang menyebutnya Lulub Samak, yang menggambarkan gelombang air yang mengalir sangat deras dan berputar dikubangan air terjun dan membuat benda-benda atau orang yang masuk dalam kubangan itu turut terbawa berputar.

Sedangkan gambaran mahluk gaib yang menyerupai kerbau menurut Hermana, masyarakat menyebutnya Munding Dongkol, sang penguasa sungai dengan tubuh yang gempal, tanduk menjulur ke depan, sorot mata yang tajam dan menyeramkan.

Festival Air Cimahi 2020. (Dok Hermana HMT)
Festival Air Cimahi 2020. (Dok Hermana HMT)

Baca juga:

Kemunculan Munding Dongkol dipercaya sangat berbahaya. Mahluk itu muncul menjelang mangrib (senja) dan selalu mengejar orang yang melihatnya.

Di sisi lain, Munding Dongkol juga sering muncul ketika aliran sungan sedang meluap. Kemunculannya menjadi tanda bahwa di kawasan tersebut bakal terjadi banjir besar.

“Mitos Lulub Samak dan Munding Dongkol ini menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari perkembangan budaya masyarakat Kota Cimahi terutama di kampung Babakan Loa RW 07 Kelurahan Pasirkaliki Cimahi Utara. Salah satunya memberi inspirasi hingga terlahir sebuah karya seni yang disebut Bangbarongan Munding Dongkol,” terang Hermana.

Mitos Munding dongkol divisualisasi pada Festival Air 2020: Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi yang digelar di Cimahi, 24-25 Oktober 2020.

Bangbarongan Munding Dongkol menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari festival ini. “Bangbarongan Munding Dongkol adalah ikon dari kirab budaya kami. Sudah sepuluh tahun wujud seni itu menyertai kami diberbagai kegiatan dan undangan kirab budaya di Kabupaten/Kota di Jawa Barat,” terang Hermana.

Bangbarongan Munding Dongkol adalah sejenis seni helaran atau seni arak-arakan dan biasanya digelar pada kegiatan kirab budaya atau karnaval budaya. Sekitar tahun 1970-1980-an seni ini sering digelar pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tiap tanggal 17 Agustus masyarakat Babakan Loa Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara senantiasa melakukan kirab budaya.

Saat acara kemerdekaan, warga Cimahi biasanya berkarnaval berjalan kaki menuju lapangan upacara di lapangan Sriwijaya Cimahi (sekarang menjadi Pasar Antri). Musik yang terus mengiringi tidak membuat lelah para peserta kirab pembawa mumundingan (kerbau buatan) dengan bahan dari injuk, pembawa dongdang (jempana) berisikan hasil pertanian, pemakai barong (topeng), dan pengiring lainnya.

“Sepanjang jalan kami menari dan bergembira merayakan hari kemerdekaan RI,” jelas Hermana.

Pada Festival Air 2020, Munding Dongkol mengispirasi terlahirnya kaya seni baru yang berhibungan dengan air dalam sajian musik, teater dan tari. Munding Dongkol dalam komposisi tari atau tari kreasi baru yang mengacu pada gerak dasar tari tadisional Sunda dengan diiringi instrumen dan gambelan Sunda.

Munding Dongkol bersemayam dalam air yang tenang senantiasa terjaga dan penuh kelembutan. Lenggoknya bagai riak air danau yang sedang tebarkan pesona. Langkahnya guntai, bergemericik bagai air terjun yang sarat dengan keindahan.

Di saat itu, kehidupan pun terasa bergairah dan penuh kedamaian. Namun ketika alam diusik, air tidak memiliki tempat yang memadai untuk bersemayam dengan tenang. Siluman Munding Dongkol akan terbangunkan dari lelap tidurnya.

Kelembutanya berubah menjadi murka dan siap menghancurkan segalaya,” kata Hermana. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here