Dewi Pamudjiwidijowati, hanya kursus decoupage 2 jam sekarang bisa beri pelatihan

Pemilik Amoe Decoucraft, Dewi Pamudjiwidijowati (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Pemilik Amoe Decoucraft, Dewi Pamudjiwidijowati (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Nuansa vintage terasa sekali kala memasuki halaman rumah pemilik Amoe Decoucraft, Dewi Pamudjiwidijowati yang berada di Komplek Permata Kopo, Jalan Permata Giok B36 RT 006 RW 011, Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung.

Beragam hiasan dinding hasil karya sang empunya rumah mempercantik dinding luar rumah, berupa jam dinding dan talenan yang mendapatkan sentuhan vintage berupa gambar flora dan fauna. Semua lukisan tersebut, menggunakan teknik decoupage yang telah ditekuni Dewi sejak 2019 silam.

Sementara meja dan kursi taman, di halaman rumah perempuan kelahiran 13 Mei 1969 ini menjadi salah satu tempatnya berkreasi. Perkenalan Dewi dengan seni yang disebut-sebut berasal dari China kemudian berkembang di Prancis ini, tanpa sengaja.

Baca juga:

“Awalnya sekitar Februari 2019, main ke rumah teman, nah di meja makannya banyak barang yang mendapatkan sentuhan decoupage. Saya pun lalu tertarik untuk mencobanya belajar dengan mengikuti kurus singkat selama dua jam dari tetangga teman saya itu,” beber Dewi saat berbincang dengan Simmanews, baru-baru ini.

Seusai mendapatkan ilmu dan bahan-bahan untuk berkreasi yaitu napkin (tisu khusus), lem, varnish, dan gunting. Dewi mulai mencobanya di rumah dengan menghias talenan dan tas anyaman.

Ketagihan

Dari mengerjakan satu karya, Dewi merasa ketagihan, bahkan hampir setiap benda-benda yang polos seperti botol bekas, toples kaleng pun tak luput dari kejahilan tangannya mengaplikasikan seni decoupage.

“Nah, setelah itu saya biasanya memfoto karya-karya tersebut dan dishare di media sosial. Awalnya merasa bangga saja bisa membuat karya seni, sebab selama ini saya tidak rajin membuat berbagai karya seni,” tuturnya.

Setelah itu, ternyata mulai ada teman-teman Dewi di media sosial yang memesan karya-karyanya. Tidak hanya dari Bandung tetapi juga dari Kalimantan dan Sumatera.

Baca juga:

“Pertama kali ada yang memesan itu, April 2019,” sambungnya.

Dewi pun mulai mengikuti pameran bersama temannya, yang juga menggeluti dunia decoupage. Setelah itu mengikuti berbagai bazar.

“Sementara untuk pemasaran, sampai saat ini masih melalui teman ke teman dan media sosial,” jelasnya.

Beri pelatihan

Selain berkarya untuk diri sendiri dan memenuhi pesanan, lulusan Universitas Padjajaran (Unpad) ini memberikan pelatihan decoupage.

“Sebelum pandemi Covid-19, sempat memberikan pelatihan kepada murid di salah satu SMK swasta di Kecamatan Ibun, kebetulan diajak sama pemiliknya. Juga perkebunan teh Pangalengan,” terang Dewi.

Sementara sejak pandemi ini, lanjut Dewi memberikan pelatihan secara online via WhatsApp dengan mengirim video tutorial.

“Harga kursus online ini, antara Rp100 sampai Rp200 ribu dengan bahan baku semua dari saya. Sebenarnya itu hanya menutup untuk harga bahan bakunya. Tetapi saya senang bisa berbagai ilmu dengan yang lain,” urainya.

Menurut Dewi, ada kesenangan tersendiri ketika dapat berbagi ilmu dengan yang lain dan melihat orang lain antusias belajar decoupage.(Yatni Setianingsih/Simmanews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here