Cerita Sukarno merancang hotel yang jadi langganan orang Eropa

grand preanger
Grand Preanger Hotel Bandung, Jalan Asia Afrika No 81. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Kota Bandung termasuk salah satu kota yang penuh sejarah, salah satu jejak sejarah dari kota yang berjuluk Paris van Java ini masih tertinggal di Grand Preanger Hotel Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika No 81.

Hotel bintang lima ini mulanya berupa bangunan toko bergaya arsitektur Indische Empire yang berdiri pada 1884. Toko ini menyediakan pelbagai kebutuhan para juragan perkebunan (pemilik perkebunan) yang sering menghabiskan akhir pekannya di Bandung.

Tubagus Adi, pemerhati sejarah dari Bandung Heritage, bilang selain menjadi tempat kongkow para preangerplanter yang merupakan orang-orang Eropa, di toko tersebut biasa digelar bursa kopi.

Masa itu perkebunan kopi di Bandung membentang dari Jalan Setiabudi hingga Jalan Asia-Afrika. Pohon-pohon kopi berdiri di antara teh dan kina. Sekarang mungkin sudah sulit menemukan pohon kopi di Kota Bandung. Apalagi pohon kina. Yang tertinggal tinggal pabrik obat kina di Jalan Padjadjaran.

Seorang pengusaha Belanda, W H C Van Deeterkom, lantas mengubah toko tempat nongkrong juragan kebun Eropa itu menjadi hotel bernama Hotel Thiem. Selanjutnya nama hotel berubah menjadi Hotel Preanger pada 1897.

Untuk mengubah bentuk bangunan hotel, pada 1929 dilakukan penggantian desain arsitektur menjadi bergaya Art Deco hasil karya arsitektur kenamaan di masa Hindia Belanda Charles Prosper Wolf Wolf Schoemaker dan muridnya Ir Sukarno (kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia).

Tububagus Adi menyebut di bagian bangunan Grand Preanger terdapat titel inisial “SS.” Ia menduga inisial SS kependekan dari nama arsiteknya, yaitu Schumacher-Sukarno.

Grand Preanger Hotel Bandung, Jalan Asia Afrika No 81. (Instagram @grandhotelpreangerbdg)
Grand Preanger Hotel Bandung, Jalan Asia Afrika No 81. (Instagram @grandhotelpreangerbdg)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Schoemaker merupakan arsitek Belanda kelahiran Desa Banyu Biru Jawa Timur pada 1882. Jebolan Akademi Militer Zeni Angkatan Darat Belanda dengan pangkat Letnan ini mengajar di Techniche Hogeschool (THS kini ITB) pada 1939. Di ITB ia mengajar Sukarno yang mengambil jurusan arsitektur.

Desain Art Deco yang berbentuk geometris dengan ciri khas bangunan yang kokoh ini hingga sekarang masih dipertahankan. Grand Preanger terdiri dari tiga bagian yaitu wings Asia-Afrika yang menghadap Jalan Asia-Afrika, tower, dan wings Naripan menghadap Jalan Naripan.

Wings Asia-Afrika yang terdiri dari 22 kamar didesain C.P. Wolff Schoemaker, sementara wings Naripan hasil karya Ir Soekarno. Untuk merasakan suasana asli Grand Preanger, tamu bisa memilih kamar di bagian wings Asia-Afrika.

Pasalnya, manajemen hotel mempertahankan suasana yang sama di masa lalu pada kamar wings Asia-Afrika, seperti kotak surat dengan bahasa Belanda yang berada di pintu masuk dan hairdryer di kamar mandi yang masih berfungsi dengan baik.

Sekjen PBB mondok di sini

Di masa Hindia Belanda, tamu hotel ini kebanyakan para pengusaha Eropa. Begitupun setelah kemerdekaan sampai sekarang hotel ini menjadi pilihan wisatawan asal Eropa untuk menginap.

Grand Preanger Hotel Bandung, Jalan Asia Afrika No 81. (Instagram @grandhotelpreangerbdg)
Grand Preanger Hotel Bandung, Jalan Asia Afrika No 81. (Instagram @grandhotelpreangerbdg)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Saat Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 yang memantik semangat perjuangan negeri-negeri koloni di dunia untuk merdeka, hotel ini menjadi salah satu tempat menginap beberapa tamu VIP yaitu delegasi dari berbagai negara Asia Afrika.

Pada 1965, hotel yang berada di kawasan kota tua Bandung ini menjadi tempat beristirahat ketua delegasi peserta Konferensi Islam Afrika Asia.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang keenam Boutros Boutros-Ghali, pernah menginap di Garuda Sweet, sebuah sweet di lantai 9 tower Grand Preanger.

Garuda Sweet sering digunakan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia saat lawatan ke Kota Kembang. Guna memberikan keamanan kepada tamu, Garuda Sweet dilapisi kaca anti-peluru. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here