Cerita di balik Blok Odading Desa Sayati

blok odading
Blok Odading di Desa Sayati, Kabupaten Bandung. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Simmanews.com – Bagi warga Kampung Saluyu Selatan atau Blok Odading RT 01/RW 16, odading dan cakwe bukan hanya kudapan berbahan baku tepung terigu, melainkan sumber kehidupan yang telah diwarisi secara turun-temurun.

Ya, di kampung yang berada di Desa Sayati, Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung ini pada 1980-an sebagian besar warganya menggantungkan hidupnya dari membuat dan menjual odading dan cakwe.

Selain menjual odading di pusat keramaian di wilayah Desa Sayati, seperti pasar dengan menggunakan gerobak kaki lima, banyak pula warga yang merantau ke luar Kabupaten Bandung seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi berjualan odading dan cakwe dengan menyawa atau membeli lapak di perantauannya.

Maka tidak mengherankan jika kawasan ini memiliki sebutan Blok Odading, seperti yang tertera di dinding gang masuk ke kawasan ini.

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Ketua RT 01 Kampung Saluyu Selatan, Rahmat mengisahkan masa kejayaan dari bisnis odading dan cakwe berlangsung pada 1980-an, atau berbarengan dengan dimulainya banyak warga yang membuat dan menjual odading.

Lambat laun bisnis di Blok Odading ini meredup, akibat banyaknya warga dari daerah lain yang memproduksi dan berjualan odading di sekitaran Sayati maupun diperantauan.

“Sekarang jauh berkurang, contohnya dulu di kawasan Pasar Sayati hanya ada satu orang dari kampung ini berjualan odading dan cakwe tapi sekarang ada warga dari daerah lain berjualan juga di pasar tersebut,” kata Rahmat kepada Simmanews.com ditemui di kediamannya, Kamis 17 September 2020.

Rahmat bilang ada dua jenis pembuat odading dan cakwe di sini, yaitu warga yang bikin dua kudapan bercita rasa manis dan asin ini di rumah kemudian dijual pihak lain.

Sementara yang lainnya membuat dan menjualnya sendiri secara dadakan, di lapak yang berada di pusat keramaian maupun keliling kampung dan diperantauan.

“Saat ini yang buat di rumah tinggal empat warga, banyak yang beralih profesi juga,” imbuh Rahmat.

Para pembuat odading dan cakwe ini biasanya beraktivitas mengolah kudapan tersebut pada sore hari untuk dijual pada malam hari, adapula yang memproduksinya pada tengah malam untuk dijual pada pagi hari.

Pantas saja ketika Simmanews bertandang ke kawasan ini, tidak menemukan kegiatan membuat kudapan yang sering disebut kue bantal karena mirip bantal ini. Hanya ada beberapa gerobak yang bertuliskan cakwe odading pada beberapa rumah, yang setia menjalankan usaha turun-temurun ini.

Sementara sisanya beralih berjualan bahan pokok, konveksi, bekerja di perusahaan swasta, dan lembaga pemerintahan. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here