Cerita delman di Desa Sayati, bertahan meski nyaris tergerus zaman

Penjaga jalur delman Desa Sayati, Yeti Suryati (kanan) bersama salah satu kusir delman (Yatni Setianingsih/Simmanews)
Penjaga jalur delman Desa Sayati, Yeti Suryati (kanan) bersama salah satu kusir delman (Yatni Setianingsih/Simmanews)

“Pada hari minggu”, “Ku turut ayah ke kota” , “Naik delman istimewa”

Penggalan lagu “Naik Delman” karya Ibu Sud ini, sepertinya tidak berlaku di Desa Sayati, Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung. Pasalnya di desa urban, yang berbatasan dengan Kota Bandung ini, naik delman bisa dilakukan setiap hari.

Ya, di Desa Sayati tepatnya di pintu masuk Komplek Taman Kopo Indah (TKI) I, alat transportasi yang ditarik kuda ini siap mengantarkan pengguna angkutan umum.

Dari gerbang perumahan tersebut sampai Jembatan Tol Cigondewah, kawasan Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung.

Menempuh rute sekitar 6 kilometer pulang pergi, para kusir delman ini siap melayani penumpang sejak pukul 05.00 sampai 19.00 WIB.

Baca juga:

“Saat ini jumlahnya tinggal 30, dulu sampai ada 200 delman,” kata pengurus jalur delman Desa Sayati, Yeti Suryati membuka perbincangan dengan Simmanews, Senin 11 Januari 2021.

Perempuan yang menggeluti profesi ini sejak 2001, mengisahkan angkutan massal ini di Desa Sayati kemungkinan sudah ada sejak 1980-an. Saat itu, ayahnya yang melakoni profesi ini, sebelum digantikan adiknya dan diteruskan olehnya,

Dahulu, sambung Yeti, kendaraan tradisional ini bukan mangkal di Kawasan Taman Kopo Indah I melainkan di Pasar Sayati Lama. Baru setelah perumahan ini selesai dibangun pada 1982, delman ini pindah terminal.

Tergurus zaman

“Selama saya mengurus ini, paling rame itu tahun 2007. Tetapi setelah itu menurun, apalagi setelah adanya ojek online dan Covid-19 ini,” tutur perempuan kelahiran 1971 ini.

Dalam mengurus jalur delman ini, dirinya bertanggung jawab untuk mengurus kebersihan jalan yang dilalui delman. Setiap pagi dan sore, perempuan berambut pendek ini membersihkan jalur  tersebut, supaya tidak menimbulkan bau dan penyakit.

“Selain itu kadang kalau ada kecelakaan delman atau kusir yang bermasalah, saya seringkali harus mengurusnya,” ungkap Yeti.

Baca juga:

Untuk itu, Yeti yang mendapatkan amanat menjalankan profesi ini dari ayahnya, memungut Rp2.000 per delman. Meskipun begitu, adapula kusir  yang enggan memberikannya.

“Alasannya sepi dan lain-lain, untuk itu saya berharap Kepala Desa Sayati Pak Nandar Kusnandar untuk mengeluarkan karcis resmi dari Pemerintah Desa (Pemdes) Sayati,”

“Biar enggak ada kusir yang bandel. Kita kan ngambil duit juga buat kebersihan. Juga ada kebijakan dari Pemdes untuk pendataan identitas kusir delman, biar tahu siapa saja, biar aman, ” tegas Yeti.

Nostalgia

Salah satu kusir delman, Momo (50 tahun) yang menjalani profesi sebagai kusir delman sejak 1980an ini, merasakan sekali perubahan setelah banyaknya pilihan angkutan umum di Desa Sayati.

“Dulu mah rame, kebanyakan penumpang itu warga yang pulang dan pergi ke pasar, anak sekolah, warga yang kerja. Dulu di Pasar Sayati Lama, di sini tuh masih rawa, tetapi 1982 pindah ke sini,” ucap Momo mengenang.

Sebelum Covid-19, memang jumlah penumpang sudah mulai menurun, tetapi sejak pandemi ini kata Momo terus menurun. Hal itu Momo rasakan dari waktu ngetem (tunggu) penumpang.

Dahulu waktu ngetem hanya 30 menit sudah bisa mengangkut penumpang penuh yaitu 5 penumpang, sementara saat ini kata Momo, ngetem bisa sampai 1-2 jam, terkadang hanya mengangkut 2-3 penumpang.

“Sekarang kan enggak ada anak sekolah, banyak yang kerjanya di PHK (pemutusan hubungan kerja), ditambah banyak yang punya sepeda motor, dan ojek online,” keluhnya.

Tarif yang dikenakan kepada penumpang, yakni Rp3.000 per penumpang sampai Kawasan Sadang dan Rp4.000 – 5.000 per penumpang sampai daerah Jembatan Tol Cigondewah

“Saya sengaja memilih naik delman, sekalian nostalgia masa kecil, karena di daerah saya sudah tidak ada. Ini mau ke rumah teman ” ucap salah satu penumpang Sinta (27 tahun) yang tinggal di Dago Kota Bandung. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here