Cara atasi penyakit pada janda bolong dan tanaman hias lainnya

janda bolong
Tangkapan layar tanaman hias janda bolong di mesin pencari Google

Musim pandemi Covid-19 orang ramai-ramai memelihara tanaman. Salah satu yang ngetop ialah janda bolong, tanaman hias yang harganya bisa mencapai ratusan juta. Nah, saat ini sudah musim hujan.

Bagi pecinta tanaman hias, tak hanya janda bolong atau Monstera adansonii, perlu waspada penyakit yang biasa menyerang tanaman di musim hujan.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Ir. Tarkus Suganda, PhD, menjelaskan, tanaman hias sangat rentan terkena penyakit, baik yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri.

Apalagi memasuki musim penghujan, serangan penyakit akan meningkat. Salah satu penyebab tanaman hias mudah terkena penyakit adalah karena jarak tanam yang rapat dengan tanaman lainnya.

Jarak yang rapat serta jenis tanaman yang seragam akan menyebabkan penyakit mudah menular.

“Kalau satu kena penyakit sedangkan tanamannya seragam dan jaraknya berdekatan, maka tanaman lain juga akan kena,” ujar Prof. Tarkus, dikutip dari siaran pers Unpad, Kamis, 29 Oktober 2020.

Penularan penyakit pada tanaman juga mirip penularan virus SARS CoV-2, penyebab penyakit Covid-19, yaitu diakibatkan transfer penyakit melalui perantara tangan manusia.

Jika seseorang memegang tanaman yang sedang sakit kemudian dia memegang tanaman lain yang sehat, maka penyakitnya akan berpindah ke tanaman sehat tersebut, kata Prof. Tarkus.

janda bolong
Taman di Kebun Binatang Bandung. (Iman Herdiana/Simmanews)

Ciri-ciri tanaman kena penyakit

Profesor menjelaskan, ada beberapa ciri yang terlihat dari suatu tanaman yang terkena penyakit.

Misalnya, penyakit yang disebabkan oleh jamur biasanya ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada daun. Sementara jika diakibatkan oleh bakteri, biasanya dahan atau tanaman tersebut akan layu.

Guru Besar bidang ilmu penyakit tumbuhan pada Departemen Hama dan Penyakit Tanaman Faperta Unpad ini menerangkan, serangan penyakit pada tanaman jauh lebih berat daripada serangan hama.

“Serangan hama mudah terlihat karena makhluknya ada, sedangkan kalau penyakit, begitu muncul bakterinya di mana kita tidak tahu,” jelas Prof. Tarkus.

Sementara proses pengobatan juga tidak akan seratus persen menghilangkan penyakit. Pengobatan penyakit hanya untuk menekan laju berkembang biak dari jamur atau bakteri. Namun, tidak sampai membunuh atau menghilangkan bakteri tersebut.

“Jika ada kesempatan yang baik, seperti masuknya musim hujan, bakteri akan berkembang biak lagi. Penyakitnya muncul lagi,” kata Prof. Tarkus.

Oleh sebab itu, pemilik tanaman sebaiknya melakukan tindakan pencegahan agar tanaman hias tidak mudah terkena penyakit. Cara efektif untuk menekan penularan penyakit adalah mengatur jarak dengan tanaman lainnya.

Usahakan juga untuk tidak menanam tanaman secara homogen di taman. Ini bertujuan untuk mencegah penularan penyakit dari tanaman homogen.

“Penyakit yang menyerang satu jenis tanaman tidak akan menyerang tanaman dengan jenis lainnya. Sebagai contoh, tanaman mawar maka bisa diselingi dengan menanam tanaman hijau. Penyakit pada mawar tidak akan menyerang ke tanaman hijau,” paparnya.

Bila ada bagian tanaman yang mati akibat penyakit, sebaiknya dipisahkan untuk mencegah penyakit menyebar ke bagian tanaman lainnya. Sisa dahan yang dipotong harus segera dibuang atau dikubur. Ini dilakukan agar penyakit tidak bisa melakukan kontak ke tanaman lain.

Penggunaan fungisida untuk mencegah penyakit bisa dilakukan. Pemilik bisa menggunakan fungisida sistemik untuk mencegah penyakit atau fungisida kontak jika tanaman sudah terkena penyakit.

“Penggunaan ekstrak tanaman juga dimungkinkan, tetapi harus dikonsultasikan dulu, karena penggunaannya tidak bisa dipukul rata,” kata Prof. Tarkus. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here