Buku “Di Muara Tagus”, puisi dari Awiligar sampai kolonialisme Portugal

puisi
Buku “Di Muara Tagus” karya Zaky Yamani, penerbit SvaTantra Penerbit Buku, Bandung. (Simmanews)

Dunia sastra melahirkan karya baru berupa buku “Di Muara Tagus: Kumpulan Puisi” buah pemikiran penulis Zaky Yamani. Lewat kumpulan puisinya, penulis mengisahkan hasil pengembaraan ke kota-kota di berbagai negara.

“Di Muara Tagus” diterbitkan SvaTantra Penerbit Buku, Bandung, Agustus 2020. Buku puisi 272 halaman ini memuat 102 puisi yang terbagi ke dalam tiga bagian atau bab.

Tema yang diulas puisi-puisi Zaky Yamani sangat beragam, mulai dari Awiligar sampai Muara Tagus di Portugal, dari Bandung sampai Frankfurt, dari daratan sampai lautan, dari masa lalu sampai masa depan.

Baca juga:

Buku dengan cover depan berupa potret perpustakaan artistik dan cover belakang warna jingga ini juga menyertakan foto-foto perjalanan. Hampir setiap puisi disertai foto-foto yang terkesan puitis.

Di blurb cover belakang buku tertulis testimoni dari penulis Bandung Ahda Imran dan Syarif Maulana.

Ahda Imran mencatat, “Puisi Zaky Yamani memperlihatkan penjelajahan bentuk yang menarik. Sekurang-kurangnya penjelajahan itu membuat teks leluasa bergerak ke banyak kemungkinan. Alih-alih teks menjadi kendaraan ide belaka, penjelajahan teks seakan menjadi usaha menafsir atau memperluas ide.”

Menurut Ahda Imran, perluasan ide tersebut mengarah ke realitas eksternal dan kesadaran personal. Zaky dinilai telah memaknai “pengalaman personal” dan “ingatan kesadaran kolektif”.

Sementara Syarif Maulana menyebut bahwa lewat kumpulan puisi, “Zaky mengabdikan dirinya pada tulisan yang punya sikap dan kekuatan. Zaky mengembara, jiwa dan raga, dan lewat puisi ditulislah siapa dirinya, dalam upaya mencapai otentisitas yang hakiki.”

Pengalaman eksternal dan personal seperti yang disampaikan Ahda Imran maupun “upaya mencapai otentisitas yang hakiki” terasa di puisi berjudul “Di Muara Tagus” yang menjadi judul buku:

Baca juga:

“Di sini kapal-kapal pernah mengangkat sauh dan berlayar.” Dari bait puisi ini terasa pemaknaan Zaky terhadap muara di negeri Portugal, sebuah negeri yang di masa kolonialisme bertindak seudele dewe dengan membikin perjanjian Tordesillas yang membagi bumi menjadi dua (bersama Spanyol) untuk dijadikan koloni.

Penulis sejumlah novel Bandar (2014), Pusaran Amuk (2016) dan kumpulan cerpen Waktu Helena (2020), itu juga menghubungkan atau mempertanyakan pengalaman dirinya di Muara Tagus dengan masa lalu.

“Apakah percik air di kakiku adalah bulir yang sama/Dari kayuh dayung mereka yang berdoa di biara/Sebelum lautan menjembatani mereka”. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here