Bersua dengan bibit-bibit atlet pencak silat Gajah Putih dari Sayati

pencak silat
Ilustrasi. (Dok Humas Jabar)

Ketika dunia demam dengan budaya K-Pop, para muda mudi di Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, justru serius menekuni seni warisan leluhur pencak silat.

Di desa urban perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung itu dirintis paguron pencak silat Gajah Putih Megapaksi Pusaka – Putra Mahdar Pusaka. Paguron didirkan para pemuda desa yang mencintai seni bela diri.

Bambang Sucipto, koordinator paguron pencak silat Gajah Putih Megapaksi Pusaka – Putra Mahdar Pusaka, bilang komunitas silatnya baru dibentuk awal 2020.

Namun saat ini jumlah muridnya sudah mencapai 70 orang yang mayoritas remaja.

Rentang usia anggota komunitas silat ini antara usia Sekolah Dasar (SD) sampai SMA. Mayoritas usia 5-9 tahun.

“Kebanyakan bibit-bibit muda. Kita pun lebih enak melatih dari kecil karena penerapan jurus lebih mudah, semangat masih tinggi dan belum kecampurah sama paham lain,” cerita Bambang Sucipto, saat berbincang dengan Simmanews, baru-baru ini.

Paguron Gajah Putih di Desa Sayati tersebut ditargetkan menjadi Pengurus Anak Cabang Kecamatan Margahayu. Kebetulan di Kecamatan Margahayu belum ada PAC Gajah Putih.

pencak silat bambang sucipto

Bambang Sucipto, koordinator paguron Gajah Putih di Desa Sayati. (Instagram)

Baca juga:

Bambang dan kawan-kawan lagi mengurus proses persiapan membentuk PAC, termasuk mendaftar ke Kesbangpol. Salah satu syarat pendirian PAC Gajah Putih ialah memiliki pelatih silat tersertifikasi.

Bambang tidak sendiri. Ia dibantu teman-temannya yang mumpuni melatih, antara lain, Adi Anarki dan Muhammad Adji.

Bambang bilang, perintisan paguron pencak silat Gajah Putih bukan untuk gaya-gayaan. Sebaliknya, pencak silat bukan hanya latihan fisik melainkan ada uji mental atau emosi.

Pendirian paguron Gajah Putih di Desa Sayati juga bukan anti-budaya asing yang memang menyergap segala lini kehidupan. Budaya asing tersebut terutama terasa membanjir sejak maraknya gawai dan media sosial.

“Bukan ingin singkirkan zaman modern tapi setidaknya mereka hafal tradisi, jangan main gadget melulu,” ucap Bambang.

Pemuda 23 tahun tersebut menginginkan ada proses regenerasi pencak silat yang merupakan seni warisan leluhur. Menurutnya, generasi masa kini tidak boleh melupakan tradisi.

“Masa kita mau melupakan seni warisan sesepuh,” ujar Bambang.

Kegiatan pencak silat Gajah Putih Sayati terprogram seminggu sekali. Murid Gajah Putih Sayati yang jumlahnya 70 orang itu tersebar di 3 RW. Sedangkan latihan dilakukan di Lapangan Futsal Baraya RT 1/RW 1 tiap Ahad mulai pukul 8 pagi.

Latihan untuk murid baru dimulai dengan dasar-dasar pencak silat. Sementara murid lama disiapkan untuk mengisi pentas kelulusan yang diiringi gamelan gendang, terompet, dan goong.

Murid Gajah Putih Sayati sudah sering pentas di acara hajatan warga, agustusan, bakti sosial, dan sesekali mendatangkan bintang tamu dari paguron Gajah Putih yang berpusat di Garut, Jawa Barat.

Respons orang tua yang anaknya ikut Gajah Putih Sayati rata-rata mendukung. Sebelum anak mereka ikut latihan, pengurus mengajukan formulir perizinan kepada orang tua. Selanjutnya, selama mengikuti latihan para murid berada di bawah tanggung jawab pelatih.

Sedangkan pendanaan Gajah Putih Sayati berasal dari kas anggota yang bersumber dari iuran anggota seikhlasnya dan donasi, antara lain, dari Desa Sayati. Kades Sayati Nandar Kusnandar sendiri duduk sebagai penasihat Gajah Putih Sayati.

“Dari Pak Kades (Nandar Kusnandar) juga memfasilitasi,” kata Bambang. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here