Bekas gudang kopi zaman Belanda kini jadi Balai Kota Bandung

kopi zaman belanda
Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana No. 2 dulunya gudang kopi zaman belanda. (Humas Kota Bandung)

Kopi kini semakin familiar. Hampir di setiap sudut jalan terdapat warung kopi, baik berbentuk warung kopi saset, kedai kopi, maupun café. Tetapi intinya sama saja, mereka menawarkan minuman kopi.

Warung-warung kopi tersebut bisa ditemui mulai dari Desa Kopi-Sayati yang merupakan perlintasan antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung di sebelah selatan, maupun Jatinangor-Cileunyi-Rancaekek yang merupakan perlintasan menuju kota di sebelah timur.

Kopi yang ditawarkan sangat beragam, tidak hanya jenis kopi yang tumbuh di perkebunan Jawa Barat yang dikenal Java Preanger seperti kopi Puntang, kopi Ciwidey, kopi Galunggung, kopi Lembang dan seterusnya, melainkan kopi dari luar Jawa seperti kopi Gayo, Toraja, Wamena, hingga kopi luar negeri.

Soal harga, kedai-kedai kopi yang menjamur tersebut membanderolnya secara bersaing.

Menilik sejarah di era sebelum kemerdekaan, kopi memang tidak asing dengan Bandung, Jawa Barat. Bandung sebagai pusat kota bahkan punya gudang kopi skala besar. Gudang tersebut kini beralih fungsi menjadi Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana No. 2.

Sebelum berfungsi sebagai kantor pemerintahan, balai kota adalah sebuah gudang bernama Gedung Kopi alias Koffie Pakhuis yang merupakan gudang kopi zaman Belanda, seperti dikutip dari siaran pers Pemkot Bandung, Minggu, 6 September 2020.

Disebutkan, disebut Gedung Kopi karena bangunan tersebut merupakan gudang menyimpanan hasil bumi dan tempat pengepakan kopi milik Andries de Wilde. Wilde tercatat sebagai tuan tanah pertama di Priangan pada tahun 1812.

Dalam buku “Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe” karya ‘kuncen Bandung’ Haryoto Kunto disebutkan, perkebunan-perkebunan kopi di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, di masa kolonial Belanda dikuasai para tuan asing, salah satunya Andries de Wilde.

kopi zaman belanda
Kopi V60. (Iman Herdiana/Simmanews.com)

Andries de Wilde merupakan dokter ahli bedah kaya raya. Luas tanahnya kurang lebih setara dengan luas kota Bandung kini. Menurut Haryoto, Andries de Wilde merupakan tuan tanah pertama di daerah Priangan.

Dokter ahli bedah pada pasukan artillerie Belanda tersebut merupakan pembantu utama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Maarschalk Herman Willem Dendels.

Gudang kopi zaman Belanda tersebut dibangun tahun 1819 saat perkebunan kopi di Priangan berkembang pada abad ke-18. Gudang kopi ini merupakan satu dari delapan gedung tembok baru di Bandung.

Namun ketika tahun 1927, Gudang Kopi dirobohkan dan di bekas lahannya dibangun gedung Gedong Papak. Bentuk atapnya yang tampak datar menyebabkan gedung ini disebut Gedong Papak. Pembangunan gedung ini dirancang oleh arsitek EH de Roo.

Pendirian balai kota ini terkait status Bandung yang menjadi Kota Praja sejak tahun 1906. Pada tahun 1935 bangunan balai kota diperluas dengan menambah bangunan baru menghadap ke Pieter Sijthoff Park yang kini bernama Taman Balai Kota.

EH de Roo kembali bertanggung jawab membangun gedung tambahan. Ia merancang bangunannya dengan arsitektur “art deco” yang lebih modern. Tahun 1980-an barulah dibangun gedung kembar tambahan di kiri dan kanan gedong papak untuk keperluan perkantoran.

Kini gedung tersebut menjadi kantor resmi Wali Kota Bandung. Selain menjadi pusat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, balai kota pun menjadi salah satu objek wisata warga.

Pengunjung biasanya menikmati keindahan bangunan maupun suasana taman eks Pieter Sijthoff Park yang kini bernama Taman Balai Kota yang ada patung badak putihnya. Di sini warga juga bisa bersantai sambil minum kopi di antara rindang pepohonan. (Yatni Setianingsih/Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga artikel Simmanews lainnya:

Sejarah masker sebelum flu Spanyol dan pandemi Covid 

Karena pandemi Covid-19, ruang kerja atau rumah ber-AC tidak lagi relevan 

Penyakit diabetes menyerang ratusan juta orang di dunia, bagaimana mengatasinya? 

Avatar Facebook dan cara mudah membikinnya 

Kisah di balik patung badak putih penunggu Balai Kota Bandung 

Sensasi pedas dan gurih cobek ikan nila Purwakarta 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here