Baju renang syari made in anak bangsa diminati pasar luar negeri

baju renang syari
Ida Farida, pemilik Aghnisan Collection. (Istimewa)

Ida Farida, pemilik Aghnisan Collection, berpikir keras menciptakan produk baju renang syari untuk perempuan dewasa berjilbab.

Maka tercetuslah ide membuat baju renang muslimah yang menutup aurat dan tidak ketat. Tidak mencetak lekuk tubuh.

Ida mengisahkan, awalnya ia meminta kepada orang tuanya yang telah menggeluti bisnis konveksi, untuk membuatkan sampel (contoh). Ia sendiri yang bikin desain dan menyediakan bahan.

“Saat itu, mencoba memproduksi dalam skala kecil hanya 75 piece,” kenang Ida yang memulai bisnisnya pada Maret 2010, kepada Simmanews, baru-baru ini.

Ida memasarkan produknya melalui akun Facebook miliknya. Untuk memposting foto produknya, Ida menggunakan kamera ponsel alakadarnya dengan resolusi gambar yang rendah.

Tak dinyana teman-teman di sosial medianya merespons baik dan tertarik dengan produk baju renang muslimah miliknya.

Semakin lama produksi baju renang muslimah Ida semakin berkembang, meskipun penjualan masih dilakukan secara online baik melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, dan berbagai marketplace, resseler, dan word of mouth (orang ke orang menyampaikan).

baju renang syari
Baju renang syari (Aghnisan Collection)

Baca juga:

Sehingga produk Aghnisan Collection tidak hanya membuat baju renang muslim perempuan dewasa, tetapi juga dewasa laki-laki, anak-anak, bayi, baju senam, himar, gamis, dan kaos kaki berenang.

“Alhamdulillah sekarang ini kita juga sudah memegang beberapa sekolah, yang rutin order seragam baju renang muslim setiap tahunnya,” ucap Ida.

Selain itu, baju renang Aghnisan Collection sudah menyebar dari Sabang sampai Merauke. Produk Ida merambah ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Pernah ada orderan dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Las Vegas, Australia, dan Hongkong. Namun kita mengirimkannya ke alamat Jakarta,” urai Ida.

Hambatan terbesar dari bisnis Aghnisan Collection terkait dengan bahan baku. Di mana Ida menggunakan dua bahan baku yaitu spandek sutra dan spandek nilon.

“Hambatan di produksi ketika bahan baku langka, karena pernah kejadian seperti ini spandek nilon langka. Sedangkan bahan ini kita pakai untuk yang anak dan dewasa juga. Akhirnya kita produksi dengan yang ada saja, yaitu bahan spandek sutra saja,” imbuh Ida. (Yatni Setianingsih/Simmanews)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here