Alasan 17 relawan vaksin Covid Bandung mundur

china vaksin covid
Ilustrasi. (Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay)

Peneliti utama uji klinis vaksin Covid-19, Profesor Kusnandi Rusmil, mencatat sampai saat ini ada 17 orang relawan uji klinis vaksin Covid yang mengundurkan diri. Kusnandi menegaskan alasan pengunduran diri relawan bukan karena vaksin.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ini menyebutkan, alasan relawan mundur beragam, mulai pindah kerja sampai punya penyakit bawaan.

Namun penyakit bawaan tersebut bukan karena pengaruh suntik vaksin. “Memang ada yang mengundurkan diri dari penelitian (uji klinis) karena pindah kerja 7 orang, 8 sakit tapi bukan oleh vaksin sakitnya,” terang peneliti utama uji klinis vaksin, Profesor Kusnandi Rusmil.

Dokter spesialis dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad tersebut menjelaskan, secara umum proses uji klinis berjalan baik. Pihaknya telah melakukan penyuntikan pertama kepada 1.620 relawan dan penyuntikan kedua kepada 1.560 relawan.

“Memang ada yang dropt out tapi drop outnya bukan karena reaksi vaksin tapi karena memang pindah kerja, ada penyakit lain umpamanya tifus (tifoid) sehingga dia tidak bisa melakukan imunisasi sehingga dia drop out,” terang Kusnandi, saat webinar baru-baru ini.

Kusnandi juga menyampaikan perkembangan terkini uji klinis vaksin Sinovac buatan China yang sedang uji klinis fase 3 oleh peneliti Bio Farma dan FK Unpad. Uji klinis ini merupakan tahap akhir yang jika lulus maka vaksinnya bisa dipakai untuk imunisasi massal.

Selain di Bandung, uji klinis serupa dilakukan di negara-negara lain seperti Brazil, Turki, dan lain-lain. Sebelum uji klinis tahap 3, vaksin Sinovac telah melalui rangkaian uji pra klinis pada tumbuhan dan hewan.

Selanjutnya, masuk uji klinis tahap 1 dan 2 di Kota Wuhan, China, tempat awal virus corona menyebar.

“Sebelum fase manusia, ada pra klinik diuji pada tumbuhan. Setelah itu ternyata pada tumbuhan tidak rusak, kemudian disuntikan ke tikus dan monyet langsung ke pembuluh darah, ternyata monyet dan tikusnya itu tidak terjadi perubahan sighifikan pada hati, limpa, paru, usus, tidak terjadi perubahan yang signifikan,” papar Kusnandi.

Dari situ lalu masuk ke fase 1 manusia untuk meneliti lebih jauh reaksi kekebalan tubuh akibat pengaruh vaksin. “Keamannya sampai sekarang tidak terjadi hal-hal merugikan pada fase 1 dan 2 di Wuhan,” lanjutnya.

Demikian juga hasil yang didapat dari hasil penelitian terbaru fase 3 tidak menunjukkan efek mengkhawatirkan, terutama dari sisi keamanan bagi tubuh relawan.

Sehingga ia menegaskan imunisasi dengan vaksin bukan hal baru. Indonesia sudah melakukannya sejak zaman dulu, mulai dari penyakit difteri, pertusis, polio, dan lain-lain.

“Kita kenal imunisasi dari dulu di puskesmas di posyandu itu biasa-biasa saja. Nah vaksin Covid sama saja,” kata Kusnandi. (Iman Herdiana/Simmanews)

Baca juga:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here